FITNESS & HEALTH

Peringati Hari Hipertensi Sedunia, Pakar Tekankan Pentingnya Ukur Tekanan Darah

A. Firdaus
Selasa 17 Mei 2022 / 17:52
Jakarta: Pentingnya mengukur tekanan darah menjadi poin penting untuk bisa menekan tingginya prevalensi hipertensi di dunia. Sebab, dari tahun ke tahun masih tetap tinggi atau belum mengalami titik positif selama 3 dekade terakhir.

Fakta itu dijabarkan dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia (WHD) 2022. Pada WHD tahun ini mengusung tema 'Measure your blood pressure, control it, live longer'. Oleh karena itu, kesadaran terhadap hipertensi tetap menjadi issue global yang penting dan memerlukan keterlibatan semua pihak.

Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 yaitu sekitar 34% tidak berubah dari angka yang didapat pada survey tahun 2007. Penyebabnya adalah tingginya kasus baru hipertensi akibat tingginya faktor risiko hipertensi seperti diabetes mellitus (kencing manis), kegemukan, konsumsi garam yang tinggi dan merokok.

"Tekanan darah harus dikendalikan, baik bagi pasien hipertensi maupun individu yang tidak menderita hipertensi," ujar dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dalam Virtual Press Conference.

Bukti penelitian yang ada secara konsisten, kata dr. Erwinanto, memperlihatkan bahwa penurunan tekanan darah bagi pasien hipertensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan gagal ginjal. Ketiganya selain berhubungan dengan tingkat kematian tinggi, juga menghabiskan biaya terbesar dari penyakit katastropik di Indonesia.


dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dalam Virtual Press Conference. (Foto: Eugine Communication)

"Sedangkan bagi individu yang bukan penyandang hipertensi, tekanan darah juga perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya hipertensi. Setiap peningkatan tekanan darah sebesar 20/10 mm Hg, dimulai dari tekanan darah 115/75 mm Hg, berhubungan dengan peningkatan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke sebesar 2 kali," ungkap dr. Erwinanto.

"Peningkatan tekanan darah juga meningkatkan kejadian penyakit ginjal secara bermakna. Di tingkat masyarakat, pencegahan hipertensi diharapkan dapat menurunkan prevalensi hipertensi," lanjutnya.

Survey May Measurement Month dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia pada 2017. Dalam survey tersebut, mengikutertakan partisipan di daerah perkotaan berusia muda (umur rerata 43 tahun). Hasilnya, hanya 52,5% penyandang hipertensi yang minum obat penurun tekanan darah.

Dalam pemaparannya, dr. Erwinanto menghimbau masyarakat untuk mengukur tekanan darah secara akurat, untuk mengetahui menderita hipertensi atau tidak. Jika menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha menurunkannya dengan cara terapi perubahan gaya hidup dengan atau tanpa terapi obat.

"Jika tidak menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha pencegahan agar tekanan darah tidak naik melalui terapi perubahan gaya hidup. Pengendalian tekanan darah yang dilakukan akan berdampak hidup lebih lama karena peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), stroke dan ginjal," kata dr. Erwinanto.
(FIR)

MOST SEARCH