FITNESS & HEALTH

5 Anggapan yang Salah tentang Kesehatan Mental

Kumara Anggita
Jumat 09 Oktober 2020 / 11:14
Jakarta: Di Indonesia, masih banyak orang yang tidak paham tentang masalah kesehatan mental. Hal ini membuat mereka memegang kesalahpahaman yang merugikan.

Agar pemahamanmu lebih luas, kenali lima mitos yang sering dibicarakan tentang kesehatan mental dilansir dari Medical News Today berikut ini:

1. Serangan panik bisa berakibat fatal


Serangan panik memang adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. Situasi ini membuat detak jantung kamu berdebar kencang dan kamu jadi ketakutan berlebihan. Namun, serangan panik tidak bisa secara langsung berakibat fatal.

Dampak buruknya adalah seseorang yang mengalami serangan panik mungkin lebih berisiko mengalami kecelakaan. Jika seseorang mengalami serangan panik atau merasakan serangan panik, mencari tempat yang aman dapat membantu.

2. Orang dengan kondisi kesehatan mental tidak bisa bekerja


Banyak orang berpikir bahwa orang dengan masalah kesehatan mental tidak dapat mempertahankan pekerjaan atau menjadi anggota angkatan kerja yang berguna. Ini sepenuhnya salah.

Memang benar bahwa seseorang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental yang sangat parah mungkin tidak dapat melakukan pekerjaan secara teratur. Namun, mayoritas orang dengan masalah kesehatan mental bisa sama produktifnya dengan individu tanpa gangguan kesehatan mental.

3. Penderita gangguan kesehatan mental adalah orang lemah


Ini sama saja dengan bilang orang yang kakinya patah sebagai sosok yang lemah. Gangguan kesehatan mental adalah penyakit, bukan tanda karakter yang buruk.

Demikian pula, orang dengan, misalnya, depresi yang tidak dapat 'keluar dari situasinya' kondisinya sama seperti seseorang dengan diabetes atau psoriasis yang sulit pulih. Melawan masalah kesehatan mental membutuhkan banyak kekuatan.

4. Kecanduan muncul karena kurangnya kemauan


Pernyataan ini tidak benar. Para ahli menganggap gangguan penyalahgunaan narkoba sebagai penyakit kronis.

Sebuah makalah dalam Laporan Perilaku Adiktif menguraikan studi longitudinal kualitatif yang menyelidiki hubungan antara kemauan keras dan pemulihan dari kecanduan. Para peneliti menemukan bahwa kurangnya kemauan bukanlah faktor penentu dalam mengalahkan kecanduan.

“Orang dengan kecanduan tampaknya tidak kekurangan kemauan. Sebaliknya, pemulihan bergantung pada pengembangan strategi untuk melestarikan kemauan dengan mengendalikan lingkungan,” tulis laporan tersebut.

5. Masalah kesehatan mental bersifat permanen


Diagnosis kesehatan mental belum tentu merupakan 'hukuman seumur hidup'. Pengalaman setiap individu dengan penyakit mental berbeda.

Beberapa orang mungkin mengalami episode, di mana mereka kembali ke versi "normal”. Ada yang mungkin membutuhkan perawatan untuk mengembalikan keseimbangan mereka. Dan yang lain mungkin merasa bahwa mereka telah pulih sepenuhnya atau merasa lebih buruk.

Sembuh dari penyakit mental tidak hanya mencakup menjadi lebih baik, tetapi juga mencapai kehidupan yang penuh dan memuaskan. Banyak orang menegaskan bahwa perjalanan mereka menuju pemulihan bukanlah jalan yang lurus dan mantap. Sebaliknya, ada pasang surut, penemuan baru, dan kemunduran.
(FIR)

MOST SEARCH