COMMUNITY

Kembali Bekerja Penuh Waktu, 64 Persen Pekerja Lebih Memilih untuk Berhenti

Mia Vale
Senin 16 Mei 2022 / 08:05
Jakarta: Saat ini, sudah banyak perusahaan memanggil karyawannya bekerja kembali ke kantor. Di Amerika Serikat, perusahaan seperti Apple dan Google mulai mewajibkan sebagian besar karyawan untuk kembali ke kantor dengan jadwal hibrid (paduan antara offline dan online). 

Namun, dari hasil survei ADP Research Institute yang diterbitkan awal pekan ini menyatakan bahwa perusahaan yang meminta agar karyawannya kembali ke kantor, akan mendapatkan pegawainya meninggalkan pekerjaannya dalam beberapa bulan mendatang. Utamanya bagi karyawan yang berusia lebih muda.

Laporan dari "People at Work 2022: A Global Workforce View", menyurvei lebih dari 32.000 pekerja pada November 2021 dari AS, India, Belanda, dan negara lain. Dua pertiga dari angkatan kerja global (64 persen) mengatakan bahwa mereka telah, atau akan mempertimbangkan, mencari pekerjaan baru jika atasan mereka menginginkan mereka kembali bekerja penuh waktu. 

"Bahkan beberapa tahun yang lalu, pemikiran untuk bekerja dalam pengaturan hibrid adalah jauh bagi kebanyakan orang. Sekarang jelas bahwa pekerjaan hibrid dan keinginan untuk fleksibilitas setelah dua tahun bekerja dari rumah tidak akan hilang. Kenyataannya, itu tumbuh dalam momentum," terang Nela Richardson, kepala ekonom di ADP dan rekan penulis laporan tersebut, mengatakan kepada CNBC Make It. 


 fleksibilitas dalam pekerjaan
(Dari hasil survei ADP Research Institute yang diterbitkan awal pekan ini menyatakan bahwa perusahaan yang meminta agar karyawannya kembali ke kantor, akan mendapatkan pegawainya meninggalkan pekerjaannya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Penolakan untuk kembali ke kantor penuh waktu bahkan lebih kuat di antara karyawan yang lebih muda. Berkisar 71 persen dari anak berusia 18 hingga 24 tahun mengatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain jika perusahaan mereka memaksa mereka untuk kembali ke kantor secara penuh waktu, dibandingkan dengan 61 persen dari 35 hingga 44 tahun dan 56 persen dari 45 hingga 54 tahun. 

Beberapa pakar tempat kerja berpendapat bahwa pekerjaan jarak jauh mengecewakan karyawan muda tanpa menjelaskan mengapa mereka tidak datang ke kantor sejak awal. Pekerjaan jarak jauh terasa lebih alami, dan tidak terlalu menakutkan bagi karyawan muda, Richardson menjelaskan, karena mereka tumbuh dengan teknologi. 

Itu tertanam dalam struktur sosial mereka, kurikulum sekolah mereka, hobi mereka. Itulah mengapa perusahaan perlu bergerak di luar makan siang dengan katering dan meja pingpong untuk membuat orang-orang muda kembali ke kantor, tambah Richardson. 

Sebaliknya, manajer perlu fokus untuk menciptakan lingkungan kantor yang menarik di mana karyawan bisa mendapatkan bimbingan berharga dari atasan dan berpartisipasi dalam kegiatan ikatan tim dengan rekan kerja mereka. 

"Ada kebutuhan baru bagi perusahaan untuk berkembang karena pasar tenaga kerja yang ketat ini. Karyawan perlu merasa bahwa mereka secara pribadi mendapat manfaat dari bangun lebih awal dan berangkat ke kantor - bahwa itu sangat berharga, atau mereka akan pergi," imbuh Richardson.
(TIN)

MOST SEARCH