FITNESS & HEALTH

Peneliti Indonesia di AS Kembangkan Kandidat Vaksin Covid-19

Raka Lestari
Kamis 25 November 2021 / 15:33
Jakarta: Peneliti Indonesia di Amerika Serikat mengembangkan kandidat baru vaksin covid-19. Kabanya, vaksin ini berbasis protein yang lebih murah, mudah untuk diproduksi dengan penanganan distribusi yang lebih sederhana. Harapannya vaksin ini bisa jadi solusi ketimpangan vaksin global.

Kandidat baru vaksin covid-19 dikembangkan Novalia Pishesha, diaspora Indonesia yang juga seorang peneliti di Society of Fellows Harvard University. Dalam jurnal ilmiah yang dirilis oleh Proceedings of The National Academy of Science (PNAS) Amerika Serikat, Nova bersama tim yang terdiri dari  21 peneliti menguji coba vaksin covid-19 yang mereka kembangkan pada tikus.

"Kandidat vaksin ini 100 persen efektif, kalau dilihat dari data semua tikus yang terlindungi," ujar Nova kepada VOA. Gagasannya ini bermula pada April 2020 atau sebulan setelah penetapan status pandemi covid-19.

Menggunakan sequence protein asli virus Wuhan, sejauh ini vaksin mampu menghadapi berbagai varian. Meski belum diujikan pada varian Delta, namun berdasarkan data dan teknologi yang ada Nova optimis vaksin akan bisa hadapi varian lain.

"Sebenarnya, modifikasi merekayasa ulang komponen vaksin tidak terlalu sulit. Jadi saya rasa kami bisa merekayasa ulang sebagian vaksin dengan varian terbaru," kata Nova.

Berbeda dari vaksin yang saat ini telah digunakan, vaksin yang dikembangkan Nova dan timnya ini berbasis protein. Dengan harapan bisa lebih mudah diproduksi dan didistribusikan ke lebih banyak negara.

"Karena ini protein base, jadi lebih mudah dibuat dan kalau untuk distribusi juga sangat mudah karena kan kalau yang mRNA ini harus dingin. Kalau yang ini bisa dikeringkan, jadi bisa di transfer kemana-mana. Ditinggal di temperatur ruangan 1-2 minggu juga tidak apa-apa," tutur Nova.

Indonesia termasuk yang punya kapasitas untuk mengembangkan vaksin protein base. Itu sebabnya saya tidak begitu inign meneliti vaksin mRNA karena butuh waktu beberapa tahun untuk membangun kapasitas manufakturnya hingga berada pada skala yang diperlukan. Bahkan di AS pun, teknologinya masih sangat baru.

"Hal ini disambut baik oleh Kementerian Kesehatan RI. Kalau kemudian pengembangan vaksin itu juga sudah taking consideration bahwa akan bisa cocok untuk Indonesia, transport technologi nya akan lebih mudah untuk Indonesia," pungkas Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI.
(FIR)

MOST SEARCH