FITNESS & HEALTH

Apakah Kembali Bekerja dari Kantor Bisa Sebabkan Perasaan Cemas?

Raka Lestari
Kamis 25 November 2021 / 19:14
Jakarta: Work from home (WFH) selama masa pandemi covid-19 ini sudah menjadi suatu hal yang terbiasa. Dan saat ini, dengan semakin menurunnya angka penularan covid-19 di Indonesia membuat beberapa perusahaan kembali memberlakukan work from office (WFO). Hal ini tentunya membuat masyarakat perlu melakukan berbagai penyesuaian kembali.

“Ketika kembali lagi WFO, pasti ada hal-hal yang perlu disesuaikan kembali. Ketika sudah terbiasa melakukan sesuatu, tentunya perlu adaptasi kembali yang perlu dilakukan,” kata DR. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si.,Psikolog, Ketua Umum Ikatan Psikologis Klinis (IPK) Indonesia, dalam acara virtual press conference jelang Kongres Nasional IV IPK, pada Kamis, 25 November 2021.


wfo bikin cemas
(Rasa cemas dapat bersifat normal dalam situasi yang menegangkan. Namun ada juga rasa cemas yang jadi indikator penyakit jika perasaan menjadi berlebihan, menguras tenaga dan pikiran, serta mengganggu kehidupan sehari-hari. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)  


Ia menambahkan, “Untuk mengatasi hal tersebut, bisa melakukan modifikasi perilaku untuk bisa lebih menyesuaikan dengan situasi-siatuasi yang dihadapi. Dan memang, dengan kembali WFO ini masih ada yang merasa cemas, merasa gamang, ketika harus melakukan aktivitas kembali seperti dulu. Jadi ini lebih ke masalah penyesuaian,” kata DR. Gamayanti.

Setelah pandemi berakhir, memang diprediksi akan adanya peningkatan masalah kesehatan mental.

“Karena ada perubahan yang begitu besar, hal tersebut pasti terjadi. Pertama itu pasti kecemasan, biasanya masih ada. Apalagi bagi mereka yang mengalami masa traumatik pada saat pandemi,” tutur DR. Gamayanti.

“Kejadian pada masa pandemi itu tentunya masih ada yang membekas dan terbawa, sekalipun pandeminya sudah berakhir. Di samping itu, ada juga beberapa masalah kesehatan mental yang mungkin bisa terpicu karena adanya pandemi covid-19 ini,” jelas DR. Gamayanti.

Menurutnya, setiap manusia memiliki kerentanannya masing-masing. “Dan kerentanan yang kita miliki, serta situasi pandemi ini bisa menjadi pemicu yang akhirnya termanifestasi sebagai masalah mental. Ini bisa berdampak panjang. Untuk itu perlu dilakukan prevensi karena terkadang masih ada masalah kesehatan mental yang berlanjut sekalipun pandemi nantinya berakhir,” tutup DR. Gamayanti.
(TIN)

MOST SEARCH