FITNESS & HEALTH

Waspada! Kenali Ciri-ciri Workaholic atau Kecanduan Kerja

Medcom
Selasa 13 September 2022 / 12:10
Jakarta: Bagi para pekerja pasti sudah tidak asing dengan kata ‘Workaholic’. Workaholic merupakan sebutan bagi orang-orang yang kecanduan bekerja. Namun, ini berbeda dengan bekerja keras pada umumnya.

Seorang workaholic biasanya mengabaikan keluarga dan hubungan sosialnya. Ia memilih untuk mengabdi mengerjakan pekerjaan secara sukarela hingga lupa waktu dengan landasan mereka merasa terdorong untuk mengerjakan sesuatu lebih.

Sementara jika dibandingkan dengan bekerja keras, berkebalikan dengan workaholic. Bekerja keras yaitu bekerja sesuai porsi pekerjaan dan tidak melupakan hubungan sosial serta keluarganya. Terlebih, seorang yang bekerja keras dapat membedakan mana waktu untuk bekerja dan tidak.

Dilansir pada laman Forbes, Kansas State University melakukan sebuah studi pada 2013 terhadap efek dari workaholic. Hasilnya adalah orang yang bekerja lebih dari 50 jam dalam satu minggu, cenderung menderita konsekuensi kesehatan fisik dan mental.

Jika ingin mengetahui apakah kamu seorang workaholic atau tidak, kenali tanda-tanda berikut untuk membuktikannya:
 

Prioritaskan pekerjaan


Tanda-tanda pertama adalah menaruh pekerjaan pada posisi paling atas dalam skala prioritas. Mereka akan bekerja tanpa kenal waktu dan di mana saja. Bahkan, saat akhir pekan pun mereka bersedia bekerja.
 

Ambisius tinggi


Ambisius memang sifat yang diperlukan dalam bekerja untuk mencapai pekerjaan yang selesai. Namun, jika kamu merasa memiliki ambisius tinggi hingga merasa stres, kamu bisa termasuk kategori workaholic.
 

Merasa stres jika tidak bekerja


Karena dorongan besar untuk bekerja, workaholic akan merasa jika ia tidak bekerja akan merasa stres. Bahkan, mereka rela melakukan apa saja asalkan tubuh mereka diajak bekerja.
 

Keseriusan kerja


Workaholic paling tidak suka diganggu jika bekerja. Tujuan utama mereka adalah menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang maksimal.
 

Tidak memiliki waktu pribadi


Jangankan untuk bersosialisasi, workaholic bisa tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri hanya untuk beristirahat sejenak selain tidur, seperti menonton atau membaca buku kesukaan.

Mereka lebih mementingkan untuk bekerja dan mencapai target. Jika target sudah dicapai, mereka akan mencari target baru untuk diraih.
 

Tidak sadar


Mereka yang workaholic tidak akan sadar bahwa mereka kecanduan untuk bekerja. Mereka akan menganggap hal tersebut normal dan tidak perlu diseriusi. Padahal, workaholic dapat memicu stres yang akan menurunkan kinerja bekerja orang itu sendiri.

Cara terbaik untuk mengatasi workaholic adalah sadar dengan apa yang diperbuat. Kamu bisa memantau jam kerja dan berapa pekerjaan yang kamu lakukan dalam satu hari. Kamu juga bisa menggunakan waktu akhir pekan sebagai waktu untuk istirahat sejenak.

Kamu juga bisa meminta pertolongan kepada rekan kerja untuk mengingatkan kamu jika ditemukan bekerja terlalu keras hingga lupa waktu. Karena workaholic seringkali tidak sadar jika sedang mengerjakan pekerjaan.

Aulia Putriningtias
 
(FIR)

MOST SEARCH