FITNESS & HEALTH

Studi: Kucing Lebih Rentan Tularkan Covid-19

Raka Lestari
Jumat 20 November 2020 / 11:17
Jakarta: Dua studi terbaru dari tim peneliti gabungan Kansas State University telah menghasilkan dua temuan penting terkait pandemi. Studi tersebut menemukan bahwa kucing lokal atau domestik bisa menjadi pembawa virus SARS-CoV-2 tanpa gejala. Sedangkan pada babi kemungkinan untuk menjadi pembawa virus SARS-CoV-2 tanpa gejala tidak signifikan.

“Penelitian lain juga menunjukkan bahwa manusia yang terinfeksi covid-19 dapat menularkan SARS-CoV-2 ke kucing. Ini termasuk juga kucing lokal dan bahkan kucing yang lebih besar, seperti singa dan harimau,” ujar Jürgen A. Richt, profesor di College of Veterinary Medicine, Kansas State University.

Richt menyebutkan bahwa temuan tersebut sangat penting, karena adanya hubungan erat antara manusia dan hewan peliharaan seperti kucing. Ia menyebutkan ada sekitar 95 juta rumah di Amerika Serikat yang memiliki kucing dan sekitar 60 – 100 juta kucing liar.

Richt merupakan penulis senior pada dua publikasi kolaboratif baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Microbes & Infections dengan judul publikasi "Infeksi SARS-CoV-2, penyakit dan penularan pada kucing domestik" dan "Kerentanan sel babi dan babi domestik terhadap SARS-CoV-2. "

Melalui studi mendalam mereka di K-State Biosecurity Research Institute, atau BRI, di Pat Roberts Hall, para peneliti mempelajari kerentanan terhadap infeksi, penyakit, dan penularan pada kucing domestik.

Mereka menemukan bahwa kucing domestik mungkin tidak memiliki tanda klinis SARS-CoV-2 yang jelas, tetapi mereka masih bisa menularkan virus melalui rongga hidung, mulut, dan rektal dan dapat menyebarkannya secara efisien ke kucing lain dalam dua hari. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mempelajari apakah kucing domestik dapat menyebarkan virus ke hewan lain dan manusia.

“Penularan yang efisien antara kucing domestik ini menunjukkan bahwa pada hewan tertentu dan kesehatan secara umum perlu dilakukan investigasi yang berpotensi dalam rantai penyebaran virus antara manusia dan kucing,” kata Richt.

Untuk penelitian yang melibatkan babi, para peneliti menemukan bahwa babi yang terinfeksi SARS-CoV-2 tidak rentan terhadap infeksi virus korona dan tampaknya tidak menularkan virus ke hewan lain.

"Hasil kami menunjukkan bahwa babi tidak mungkin menjadi pembawa SARS-CoV-2 yang signifikan,” tutup Richt.
(FIR)

MOST SEARCH