FITNESS & HEALTH

Waspada, Inggris Identifikasi Omicron 'Sub-Varian' dengan Julukan BA.2

Mia Vale
Kamis 27 Januari 2022 / 08:05
Jakarta: Varian awal Omicron telah menjadi jenis virus yang dominan dalam beberapa bulan terakhir. Para ilmuwan pun terus mencermati sub-varian dari varian Omicron untuk menentukan bagaimana kemunculannya dapat memengaruhi penyebaran pandemi di masa depan. 

Dan ternyata, otoritas kesehatan Inggris telah mengidentifikasi ratusan kasus dari versi terbaru dari Omicron yang dijuluki BA.2 atau atau yang juga disebut 'Son of Omicron'. Sementara itu, data internasional menunjukkan bahwa BA.2 dapat menyebar dengan relatif cepat. 

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengidentifikasi lebih dari 400 kasus di Inggris dalam 10 hari pertama bulan ini dengan mengindikasikan varian terbaru yang telah terdeteksi di sekitar 40 negara lain. Sebagian besar kasus terbaru ada di beberapa negara termasuk India, Denmark dan Swedia. 

UKHSA mengindikasikan pada hari Jumat, 21 Januari 2022 bahwa mereka telah menetapkan sub-garis keturunan BA.2 sebagai varian yang sedang diselidiki karena kasusnya terus meningkat. 

Melansir dari kabar Aljazeera, pihak berwenang menggarisbawahi bahwa masih ada ketidakpastian seputar signifikansi perubahan pada genom virus, yang memerlukan pengawasan. 

Karena, secara paralel, kasus dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan tajam dalam insiden BA.2 terutama di India dan Denmark. 


son of omicron adalah
(Menurut UKHSA, sebagian besar kasus dari versi terbaru dari Omicron yang dijuluki BA.2 atau atau yang juga disebut 'Son of Omicron' terbaru ada di beberapa negara termasuk India, Denmark dan Swedia. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)


"Yang mengejutkan kami adalah kecepatan sub-varian ini, yang telah beredar luas di Asia, dan telah menguasai Denmark," aku ahli epidemiologi Prancis Antoine Flahault, kepada kantor berita AFP.

Para ilmuwan harus mengevaluasi bagaimana virus terus berevolusi dan bermutasi. Inkarnasi terbarunya tidak memiliki mutasi spesifik yang digunakan untuk melacak dan membandingkan BA.1 (varia Omicron) dengan Delta, strain yang sebelumnya dominan. 

BA.2 belum ditetapkan sebagai varian kekhawatiran, tapi Flahault mengatakan negara-negara harus waspada terhadap perkembangan terbaru saat para ilmuwan meningkatkan pengawasan. 

Prancis sendiri memperkirakan lonjakan kontaminasi pada pertengahan Januari. Itu tidak terjadi dan mungkin itu karena sub-varian ini, yang tampaknya sangat menular tetapi tidak lebih ganas dari BA.1.  

“Yang menarik bagi kami adalah sub-varian ini memiliki karakteristik yang berbeda dari BA.1, dalam hal penularan dan tingkat keparahan," terang badan kesehatan masyarakat Prancis, pada Jumat lalu. 

Hingga saat ini, hanya segelintir kasus BA.2 yang muncul di Prancis, namun negara tersebut memantau perkembangan saat kasus tersebut menyebar. 

“Pengamatan yang sangat awal dari India dan Denmark menunjukkan tidak ada perbedaan dramatis dalam tingkat keparahan dibandingkan dengan BA.1,” cuit Tom Peacock, seorang ahli virus di Imperial College, London. 

Peacock menekankan, dirinya tidak memiliki 'pegangan' yang kuat tentang seberapa banyak kemampuan menular yang dimiliki BA.2 dibandingkan BA.1. Namun, ia dapat membuat beberapa tebakan/pengamatan awal. 

“Kemungkinan ada perbedaan minimal dalam efektivitas vaksin terhadap BA.1 dan BA.2. Secara pribadi, saya tidak yakin BA.2 akan berdampak besar pada gelombang pandemi Omicron saat ini," papar Peacock. 

“Beberapa negara sudah dekat, atau bahkan melewati puncak gelombang BA.1. Saya akan sangat terkejut jika BA.2 menyebabkan gelombang kedua pada saat ini. Bahkan dengan transmisibilitas yang sedikit lebih tinggi, ini sama sekali bukan perubahan Delta-Omicron dan sebaliknya cenderung lebih lambat dan lebih halus,” tambah Peacock memperkirakan. 

(TIN)

MOST SEARCH