FITNESS & HEALTH

Kemenkes: Gaya Hidup Buruk Berisiko Penyakit Tidak Menular

Sunnaholomi Halakrispen
Selasa 06 Oktober 2020 / 15:40
Jakarta: Gaya hidup bukanlah hal yang bisa disepelekan begitu saja, karena dapat menyebabkan risiko penyakit tidak menular. Hingga saat ini, penyakit tidak menular merupakan penyakit yang mematikan.

"Perubahan pola penyakit saat ini telah bergeser, cenderung didominasi oleh kelompok penyakit tidak menular. Hal ini dipengaruhi oleh moderinisasi yang menyebabkan perilaku hidup tidak sehat," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr. Achmad Yurianto dalam webinar Kemenkes, Selasa, 6 Oktober 2020.

Yuri menjelaskan, gaya hidup tidak sehat tersebut termasuk merokok. Kemudian, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, malas bergerak, dan mengonsumsi makanan cepat saji. Hal tersebut pun berakibat pada timbulnya obesitas dan tekanan darah tinggi.

"Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap munculnya penyakit tidak menular, seperti stroke, jantung, dan diabetes," paparnya.

"Penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor risiko gangguan penglihatan dan kebutaan yang pada akhirnya kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang," tambah Yuri.

Maka dari itu, kata Yuri, upaya deteksi dini penyakit tidak menular dan deteksi dini gangguan penglihatan di masyarakat perlu gencar dilakukan. Tentunya, untuk menjaring kasus yang selama ini tidak kita sadari.

Upaya ini kemudian ditindaklanjuti dengan rujukan fasilitas kesehatan tingkat pertama. Sehingga, permasalahan gangguan penglihatan bisa ditangani bahkan dicegah sedini mungkin.

Yuri kembali menekankan bahwa skrining dan deteksi dini merupakan kunci utama menemukan kasus sedini mungkin. Kemudian, diintervensi dengan tepat.

"Selain itu, pertumbuhan penduduk dan populasi yang menua, disertai perubahan gaya hidup dan urbanisasi, juga memberikan tantangan Indonesia untuk mewujudkan penduduk yang sehat dan produktif hingga lansia," jelasnya.

Oleh karena itu, pembangunan manusia setidaknya dilakukan dengan pendekatan mulai dari 1000 hari pertama kehidupan. Hal ini meliputi pendidikan usia dini, pola asuh, pembentukan karakter anak dalam keluarga, remaja, usia dewasaa menuju ke dunia kerja, serta penyiapan kehidupan berkeluarga dan lansia.
(FIR)

MOST SEARCH