FITNESS & HEALTH

Kenali Bahaya Bahan BPA di Wadah Plastik Makanan dan Minuman

A. Firdaus
Sabtu 09 Januari 2021 / 15:02
Jakarta: Jika kamu makan atau minum yang menggunakan wadah kemasan plastik, pastikan kamu melihat takaran kadar BPA nya. Sebab jika lengah, bahaya akan menantimu.

Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia yang ditambahkan ke banyak produk komersial, termasuk wadah makanan dan produk kebersihan. BPA pertama kali ditemukan pada tahun 1890-an.

Menurut dr. Daulika Yusna, Sp.A dari Rumah Sakit Mayapada, kemasan makanan dan minuman atau galon dengan kandungan yang tidak tepat, seperti mengandung BPA, sangat berbahaya jika isinya dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama.

Jika sudah terpapar BPA, maka akan berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung, kanker, kelainan organ hati, diabetes, gangguan otak, serta perilaku pada anak kecil.

Terkait bahaya paparan BPA, Natalya Kurniawati selaku Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah lama menyatakan kalau wadah makanan dan minuman yang mengandung BPA berbahaya. Apalagi kalau untuk dipakai pada produk-produ kemasan yang dipakai berulang.

“Bahwa kami tidak mendukung untuk produk-produk kemasan yang mengandung atau berpotensi timbulnya Bisphenol A. Seperti misalnya kalau kita cari referensi jenis-jenis plastik daur ulang, atau bahan plastik, di situ ada simbol-simbol dari mulai angka 1 sampai dengan angka 7," ujar Natalya dalam keterangan rilis.


Natalya Kurniawati peneliti YKLI. (Foto: Ist)

"Nah yang angka 1 ini digunakan untuk produk-produk kemasan yang sekali pakai. Dan di sini yang harus dilihat nomor (3) nomor (6) dan nomor (7) itu berbahaya bagi kesehatan,” sambung Natalya.

Masih menurut Natalya, bahan BPA memang tidak diperuntukkan bersentuhan dengan makanan atau minuman, seperti misalnya steroform, plastik untuk campuran pipa pvc dan lain sebagainya. Kemudian di situ juga dilihat biasanya produk–produk kemasan lunch box atau kotak makanan di situ ada kode (PP) Polypropylene itu yang lebih aman.

“Di situ biasanya yang BPA free dan bisa dipakai ulang, tahan terhadap suhu tinggi. Ini yang biasanya dipilih dipakai untuk konsumen. Tapi tetap harus diperhatikan dari konsumen itu bukan dari nomor berapa yang dipakai itu bisa didaur ulang dan aman” terang Natalya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Ketua Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (AJPKL), Roso Daras yang menyatakan pentingnya masyarakat untuk mengetahu bahaya dari bahan BPA. Termasuk pencantuman kandungan BPA di dalam wadah plastik kemasan.

"Dalam hal ini, konsumen harus mendapat informasi cukup di dalam kemasan. Informasi itu bukan hanya melulu mencantumkan soal isi dari makanan atau minuman tersebut, tapi juga kemasan itu terbuat dari bahan apa? Jika mengandung BPA katakan bahwa plastik kemasan itu mengandung BPA. Informasi ini harus sampai kepada konsumen. Produsen tidak boleh menutupi ini,” ungkap Roso Daras dalam siaran pers pada Jumat 7 Januari.

"Kenapa pencantuman kandungan BPA atau BPA Free bagi kemasan yang tidak mengandung BPA perlu dilakukan, supaya konsumen tahu dan lebih berhati–hati dalam memilih prduk yang akan dikonsumsi. Sebab soal bahaya BPA sudah tidak perlu diperdebatkan lagi," tandas Roso Daras.
(FIR)

MOST SEARCH