FAMILY

Dampak Pandemi pada Aspek Kesehatan Mental di Keluarga

Raka Lestari
Kamis 12 November 2020 / 07:05
Jakarta: Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat selama masa pandemi covid-19 ini adalah kecemasan. Masalah ini tentunya akan memiliki dampak juga terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Berdasarkan survei bertajuk “Dampak Pandemi Terhadap Kondisi Kesehatan Mental” yang dilakukan oleh Teman Bumil dan Populix pada pertengahan Oktober 2020, dua dari 10 ibu rumah tangga mengaku masih cemas dengan berita tentang covid-19 yang mereka baca dari media sosial atau berita di intenet.

Namun saat ini di beberapa daerah sudah melakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB). Sehingga masyarakat bisa melakukan kegiatan seperti sebelumnya, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan tentunya.

Secara psikologis, menurut Psikolog keluarga Anna Surti Ariani, adaptasi terhadap kebiasaan baru ini adalah tanda menuju ke tahapan rekonstruksi emosi. Psikolog yang akrab disapa Nina ini menjelaskan, ada fase-fase emosional dalam kebencanaan.

“Di awal pandemi, emosi akan mudah terstimulasi. Sehingga muncul rasa cemas dan panik. Bersamaan dengan emosi yang tersulut, muncul rasa heroik, di mana banyak relawan yang saling memberikan bantuan,” ujar Nina.

Ketika semua sudah dilakukan dan pandemi tak juga berakhir, emosi kembali jatuh ke titik terdalam. Sebagian orang mengalaminya ketika korban covid-19 semakin banyak. Namun, seiring waktu, masyarakat mulai bisa menerima.

“Saat ini masyarakat tengah menuju emosi rekonstruksi. Artinya masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan barunya. Kita menyebutnya masa densitisasi emosi, yakni tidak lagi mudah merasa cemas,” kata Nina.

Meskipun begitu, rasa cemas tetap diperlukan. Tidak merasa cemas justru berbahaya karena menjadi abai. Sebaliknya cemas terlalu tinggi juga tidak baik karena beranggapan bahwa apapun yang dilakukan akan sia-sia.

"Dengan menggunakan masker setiap ke luar rumah sebenarnya menunjukkan bahwa kita memiliki kecemasan (akan tertular), namun bisa beradaptasi dengan baik. Bagi yang tidak menggunakannya, artinya belum beradaptasi,” terang Nina.

Nanti pada Januari-Maret, kata Nina, akan ada potensi terjadi lagi penurunan emosi terkait anniversary reaction.

“Banyak orang yang berharap setahun setelah pandemi, kondisi akan membaik. Jika kondisi tidak seperti yang diharapkan atau pandemi masih terus berlangsung, sangat mungkin emosi masyarakat kembali jatuh,” tutup Nina.
(FIR)

MOST SEARCH