- Bayi gumoh dan muntah terlihat mirip, tetapi sebenarnya berbeda.
- Kenali cirinya, cara menangani muntah bayi, serta tanda yang perlu segera diperiksa dokter.
- Tidak semua muntah merupakan kondisi darurat.
Jakarta: Melihat bayi mengeluarkan kembali susu setelah menyusu tentu bisa membuat orang tua panik. Apalagi, bayi belum bisa menjelaskan apakah ia merasa mual, sakit perut, atau tidak nyaman.
Namun, tidak semua cairan yang keluar dari mulut bayi merupakan muntah. Bayi juga cukup sering mengalami gumoh atau refluks, terutama pada usia beberapa bulan pertama. Sekilas keduanya terlihat mirip, tetapi ada perbedaan yang bisa diperhatikan orang tua.
Memahami perbedaannya penting agar orang tua tidak langsung khawatir ketika bayi gumoh, tetapi juga tidak mengabaikan tanda yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Gumoh atau refluks terjadi ketika sebagian isi lambung kembali naik ke kerongkongan dan keluar melalui mulut. Kondisi ini cukup umum pada bayi karena sistem pencernaan mereka masih berkembang.
Biasanya, susu atau makanan keluar dalam jumlah relatif sedikit dan mengalir begitu saja, tanpa kontraksi kuat dari otot perut. Bayi juga umumnya tetap terlihat nyaman setelahnya dan dapat kembali menyusu atau beraktivitas seperti biasa.
Gumoh dapat terjadi setelah bayi menyusu, terutama jika ia minum terlalu banyak, menelan banyak udara, atau langsung beraktivitas setelah menyusu.
Pada sebagian besar bayi, gumoh akan berkurang seiring bertambahnya usia dan perkembangan sistem pencernaan.
Berbeda dengan gumoh, muntah merupakan pengeluaran isi lambung secara aktif. Biasanya terdapat kontraksi otot perut sehingga isi lambung terdorong keluar dengan lebih kuat.
Bayi yang muntah juga dapat terlihat tidak nyaman, menangis, atau menjadi rewel. Muntah dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari infeksi saluran cerna hingga masalah kesehatan lainnya.
Jika muntah terjadi berulang, jumlahnya banyak, atau disertai gejala lain, orang tua sebaiknya tidak hanya menganggapnya sebagai gumoh biasa.
Jika bayi muntah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu menjaga kondisinya.
Hal yang paling perlu diperhatikan setelah bayi muntah adalah risiko kehilangan cairan. Jika bayi masih mau menyusu, ASI dapat tetap diberikan. Berikan dalam jumlah lebih sedikit tetapi lebih sering agar bayi tidak langsung menerima banyak cairan sekaligus.
Untuk bayi yang mendapatkan susu formula, jangan mengencerkan susu formula tanpa anjuran tenaga kesehatan. Jika muntah berulang atau bayi sulit minum, konsultasikan dengan dokter mengenai kebutuhan cairannya.
Saat bayi masih terjaga, orang tua dapat menggendongnya dalam posisi tegak setelah menyusu dan membantu bayi bersendawa.
Namun, ketika bayi tidur, selalu letakkan bayi telentang di permukaan tidur yang datar dan kokoh. Jangan menidurkan bayi tengkurap atau menyamping untuk mencegah muntah, dan jangan menggunakan bantal, guling, atau alat penyangga untuk mengubah posisi tidur bayi.
Posisi tidur telentang tetap direkomendasikan untuk mengurangi risiko kematian bayi mendadak, termasuk pada bayi yang mengalami refluks.
Jika bayi sudah mendapatkan makanan pendamping ASI dan mengalami muntah, jangan memaksanya makan ketika masih mual atau muntah.
Prioritaskan kecukupan cairan dan berikan makanan kembali secara bertahap ketika bayi sudah membaik dan mampu menerimanya. Untuk bayi yang muntah berulang, terutama bayi kecil, sebaiknya tanyakan kepada dokter mengenai pemberian cairan dan makanan yang sesuai.
Tidak semua muntah merupakan kondisi darurat. Namun, orang tua perlu lebih waspada jika muntah terjadi berulang atau bayi menunjukkan tanda-tanda kondisi yang lebih serius.
Segera cari pertolongan medis jika bayi mengalami muntah berwarna hijau atau kuning kehijauan, mengandung darah, menyembur dengan kuat dan berulang, sulit dibangunkan, mengalami kejang, kesulitan bernapas, atau tampak sangat sakit.
Tanda dehidrasi juga perlu diperhatikan, seperti popok yang jauh lebih jarang basah, mulut kering, tidak mengeluarkan air mata ketika menangis, atau bayi tampak sangat lemas.
Pada bayi yang masih sangat kecil, terutama bayi baru lahir, muntah yang berulang juga sebaiknya tidak dianggap sepele.
Pada akhirnya, orang tua tidak perlu langsung panik setiap kali melihat bayi mengeluarkan susu. Gumoh yang sedikit dan bayi tetap nyaman biasanya berbeda dengan muntah yang keluar dengan kuat dan disertai perubahan kondisi bayi.
Yang paling penting adalah memperhatikan frekuensi muntah, jumlah dan warna cairan yang keluar, kondisi bayi setelah muntah, serta tanda-tanda dehidrasi. Jika ragu atau kondisi bayi memburuk, pemeriksaan dokter menjadi pilihan yang paling aman.
Secillia Nur Hafifah
(FIR)
Namun, tidak semua cairan yang keluar dari mulut bayi merupakan muntah. Bayi juga cukup sering mengalami gumoh atau refluks, terutama pada usia beberapa bulan pertama. Sekilas keduanya terlihat mirip, tetapi ada perbedaan yang bisa diperhatikan orang tua.
Memahami perbedaannya penting agar orang tua tidak langsung khawatir ketika bayi gumoh, tetapi juga tidak mengabaikan tanda yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Baca Juga :
Bayi Sering Mengepalkan Tangan, Normalkah?
Gumoh, Biasanya Keluar Tanpa Banyak Tenaga
Gumoh atau refluks terjadi ketika sebagian isi lambung kembali naik ke kerongkongan dan keluar melalui mulut. Kondisi ini cukup umum pada bayi karena sistem pencernaan mereka masih berkembang.
Biasanya, susu atau makanan keluar dalam jumlah relatif sedikit dan mengalir begitu saja, tanpa kontraksi kuat dari otot perut. Bayi juga umumnya tetap terlihat nyaman setelahnya dan dapat kembali menyusu atau beraktivitas seperti biasa.
Gumoh dapat terjadi setelah bayi menyusu, terutama jika ia minum terlalu banyak, menelan banyak udara, atau langsung beraktivitas setelah menyusu.
Pada sebagian besar bayi, gumoh akan berkurang seiring bertambahnya usia dan perkembangan sistem pencernaan.
Kalau Muntah, Biasanya Lebih Kuat
Berbeda dengan gumoh, muntah merupakan pengeluaran isi lambung secara aktif. Biasanya terdapat kontraksi otot perut sehingga isi lambung terdorong keluar dengan lebih kuat.
Bayi yang muntah juga dapat terlihat tidak nyaman, menangis, atau menjadi rewel. Muntah dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari infeksi saluran cerna hingga masalah kesehatan lainnya.
Jika muntah terjadi berulang, jumlahnya banyak, atau disertai gejala lain, orang tua sebaiknya tidak hanya menganggapnya sebagai gumoh biasa.
3 Cara Membantu Bayi saat Muntah
Jika bayi muntah, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu menjaga kondisinya.
1. Berikan ASI atau susu sedikit-sedikit tetapi lebih sering
Hal yang paling perlu diperhatikan setelah bayi muntah adalah risiko kehilangan cairan. Jika bayi masih mau menyusu, ASI dapat tetap diberikan. Berikan dalam jumlah lebih sedikit tetapi lebih sering agar bayi tidak langsung menerima banyak cairan sekaligus.
Untuk bayi yang mendapatkan susu formula, jangan mengencerkan susu formula tanpa anjuran tenaga kesehatan. Jika muntah berulang atau bayi sulit minum, konsultasikan dengan dokter mengenai kebutuhan cairannya.
2. Perhatikan posisi bayi setelah menyusu
Saat bayi masih terjaga, orang tua dapat menggendongnya dalam posisi tegak setelah menyusu dan membantu bayi bersendawa.
Namun, ketika bayi tidur, selalu letakkan bayi telentang di permukaan tidur yang datar dan kokoh. Jangan menidurkan bayi tengkurap atau menyamping untuk mencegah muntah, dan jangan menggunakan bantal, guling, atau alat penyangga untuk mengubah posisi tidur bayi.
Posisi tidur telentang tetap direkomendasikan untuk mengurangi risiko kematian bayi mendadak, termasuk pada bayi yang mengalami refluks.
3. Jangan buru-buru memberikan makanan padat
Jika bayi sudah mendapatkan makanan pendamping ASI dan mengalami muntah, jangan memaksanya makan ketika masih mual atau muntah.
Prioritaskan kecukupan cairan dan berikan makanan kembali secara bertahap ketika bayi sudah membaik dan mampu menerimanya. Untuk bayi yang muntah berulang, terutama bayi kecil, sebaiknya tanyakan kepada dokter mengenai pemberian cairan dan makanan yang sesuai.
Kapan Bayi Muntah Perlu Dibawa ke Dokter?
Tidak semua muntah merupakan kondisi darurat. Namun, orang tua perlu lebih waspada jika muntah terjadi berulang atau bayi menunjukkan tanda-tanda kondisi yang lebih serius.
Segera cari pertolongan medis jika bayi mengalami muntah berwarna hijau atau kuning kehijauan, mengandung darah, menyembur dengan kuat dan berulang, sulit dibangunkan, mengalami kejang, kesulitan bernapas, atau tampak sangat sakit.
Tanda dehidrasi juga perlu diperhatikan, seperti popok yang jauh lebih jarang basah, mulut kering, tidak mengeluarkan air mata ketika menangis, atau bayi tampak sangat lemas.
Pada bayi yang masih sangat kecil, terutama bayi baru lahir, muntah yang berulang juga sebaiknya tidak dianggap sepele.
Pada akhirnya, orang tua tidak perlu langsung panik setiap kali melihat bayi mengeluarkan susu. Gumoh yang sedikit dan bayi tetap nyaman biasanya berbeda dengan muntah yang keluar dengan kuat dan disertai perubahan kondisi bayi.
Yang paling penting adalah memperhatikan frekuensi muntah, jumlah dan warna cairan yang keluar, kondisi bayi setelah muntah, serta tanda-tanda dehidrasi. Jika ragu atau kondisi bayi memburuk, pemeriksaan dokter menjadi pilihan yang paling aman.
Secillia Nur Hafifah
(FIR)