FAMILY
Desain Interior Bukan Cuma Estetik, Tapi Harus Multifungsi dan Hemat Ruang
A. Firdaus
Sabtu 31 Januari 2026 / 17:32
- Pada 2025 ekspor mebel menempati peringkat kedua.
- Pasokan apartemen telah melampaui 230 ribu unit.
- Pemulihan sektor pariwisata turut memperluas kebutuhan furnitur.
Jakarta: Industri mebel dan furnitur Indonesia memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional, sekaligus peluang ekspansi yang masih terbuka lebar di pasar global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen. Hal ini menegaskan furnitur sebagai industri bernilai tambah yang berorientasi ekspor.
Namun, di tengah pasar furnitur dunia yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa Indonesia masih berada di bawah satu persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama industri furnitur nasional bukan pada potensi, melainkan pada konektivitas rantai nilai, mulai dari material, teknologi produksi, hingga akses pasar internasional.
Di dalam negeri, perubahan pola hunian turut membentuk arah baru desain furnitur dan interior. Pertumbuhan segmen rumah berukuran kecil mendorong kebutuhan furnitur yang lebih ringkas, modular, dan hemat ruang. Desain kini tidak hanya soal estetika, tetapi juga efisiensi, fleksibilitas, dan fungsi yang relevan dengan gaya hidup urban, khususnya bagi para first-time homeowners.
Tren tersebut juga diperkuat dengan meningkatnya jumlah apartemen. Di Jakarta, pasokan apartemen telah melampaui 230 ribu unit dengan tingkat hunian mendekati 88 persen. Hal ini mendorong permintaan akan furnitur siap rakit dan solusi interior praktis.
Selain itu, pemulihan sektor pariwisata turut memperluas kebutuhan furnitur untuk hotel, vila, hingga akomodasi jangka pendek.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 13,9 juta orang, tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan. Desain interior pun menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman ruang dan daya tarik properti.
Menjawab kebutuhan pasar dan penguatan ekosistem industri, Amara Group bersama Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran dagang utama di sektor material, manufaktur, furnitur, dan interior.
Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Targetnya menghadirkan sekitar 800 exhibitor dan 15.000 pengunjung, serta partisipasi lebih dari 20 negara, termasuk Australia, China, Denmark, Jerman, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat.
Inisiatif ini diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, sebuah platform industri terpadu yang menghubungkan material, proses produksi, dan desain dalam satu ekosistem.
Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd, Mathias Küpper, menyebut konsep integrasi lintas sektor ini sebagai tonggak penting bagi pengembangan industri furnitur di Indonesia dan Asia-Pasifik.
“Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem yang terkoordinasi, pendekatan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih relevan antara desain, industri, dan pasar,” ujarnya.
Dalam penyelarasan ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengelola sejumlah pameran seperti IFFINA+, interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia, serta IFMAC WOODMAC yang diselenggarakan beriringan.
Sekitar 50 persen partisipasi pelaku UMKM juga hadir dalam ekosistem IFFINA, memperkuat peran industri kreatif lokal.
Ketua ASMINDO Dedy Rochimat menilai inisiatif ini sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini.
“Penyelarasan ini mendukung pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir,” katanya.
Ke depan, penguatan industri furnitur juga bertumpu pada kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas kreatif, media, hingga investor.
Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect diharapkan menjadi ruang pertukaran ide, inovasi, business matching, serta forum terkurasi untuk memperkuat daya saing furnitur Indonesia di pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen. Hal ini menegaskan furnitur sebagai industri bernilai tambah yang berorientasi ekspor.
Namun, di tengah pasar furnitur dunia yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa Indonesia masih berada di bawah satu persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama industri furnitur nasional bukan pada potensi, melainkan pada konektivitas rantai nilai, mulai dari material, teknologi produksi, hingga akses pasar internasional.
Tren Hunian Urban Dorong Furnitur Ringkas dan Modular
Di dalam negeri, perubahan pola hunian turut membentuk arah baru desain furnitur dan interior. Pertumbuhan segmen rumah berukuran kecil mendorong kebutuhan furnitur yang lebih ringkas, modular, dan hemat ruang. Desain kini tidak hanya soal estetika, tetapi juga efisiensi, fleksibilitas, dan fungsi yang relevan dengan gaya hidup urban, khususnya bagi para first-time homeowners.
Tren tersebut juga diperkuat dengan meningkatnya jumlah apartemen. Di Jakarta, pasokan apartemen telah melampaui 230 ribu unit dengan tingkat hunian mendekati 88 persen. Hal ini mendorong permintaan akan furnitur siap rakit dan solusi interior praktis.
Selain itu, pemulihan sektor pariwisata turut memperluas kebutuhan furnitur untuk hotel, vila, hingga akomodasi jangka pendek.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 13,9 juta orang, tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan. Desain interior pun menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman ruang dan daya tarik properti.
Empat Pameran Besar Digabung Jadi Satu Platform Industri Terpadu
Menjawab kebutuhan pasar dan penguatan ekosistem industri, Amara Group bersama Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran dagang utama di sektor material, manufaktur, furnitur, dan interior.
Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Targetnya menghadirkan sekitar 800 exhibitor dan 15.000 pengunjung, serta partisipasi lebih dari 20 negara, termasuk Australia, China, Denmark, Jerman, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat.
Inisiatif ini diperkenalkan sebagai Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, sebuah platform industri terpadu yang menghubungkan material, proses produksi, dan desain dalam satu ekosistem.
Ruang Kolaborasi Industri dan Kreatif
Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd, Mathias Küpper, menyebut konsep integrasi lintas sektor ini sebagai tonggak penting bagi pengembangan industri furnitur di Indonesia dan Asia-Pasifik.
“Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem yang terkoordinasi, pendekatan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih relevan antara desain, industri, dan pasar,” ujarnya.
Dalam penyelarasan ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengelola sejumlah pameran seperti IFFINA+, interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia, serta IFMAC WOODMAC yang diselenggarakan beriringan.
Sekitar 50 persen partisipasi pelaku UMKM juga hadir dalam ekosistem IFFINA, memperkuat peran industri kreatif lokal.
Ketua ASMINDO Dedy Rochimat menilai inisiatif ini sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini.
“Penyelarasan ini mendukung pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir,” katanya.
Dorong Ekosistem Furnitur Masa Depan
Ke depan, penguatan industri furnitur juga bertumpu pada kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas kreatif, media, hingga investor.
Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect diharapkan menjadi ruang pertukaran ide, inovasi, business matching, serta forum terkurasi untuk memperkuat daya saing furnitur Indonesia di pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)