COMMUNITY

Belajar dari Dampak Siklon Tropis Cempaka, Puluhan Pemuda Yogyakarta Pilah Sampah di Sungai Code

Yuni Yuli Yanti
Senin 27 Juni 2022 / 11:00
Jakarta: Sekitar 40 anak dan orang muda yang tergabung dalam Child Campaigner Yogyakarta Save the Children Indonesia menginisiasi aksi bersih sungai dan pilah sampah di wilayah Sendowo yakni area bagian tengah sungai Code Yogyakarta. 

Aktivitas ini merupakan bagian dari Aksi Generasi Iklim yang digagas oleh Save the Children Indonesia sejak April 2022. Anak-anak juga menggandeng pihak lainnya seperti P3S (Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai) Yogyakarta.

Aksi yang dilakukan pada Minggu pagi, 26 Juni 2022 ini menyoroti tingkat kesadaran masyarakat di wilayah perkotaan Yogyakarta terkait menjaga kebersihan dan memelihara sungai. Aksi ini juga bertujuan untuk meminimalisasi risiko dan dampak buruk yang pernah terjadi pada 2017 silam saat Siklon Tropis Cempaka melanda Yogyakarta terutama wilayah hilir sungai code yakni di Pleret–Imogiri, Kab. Bantul.

"Penumpukan sampah limbah rumah tangga maupun limbah industri di sungai dapat memperburuk kondisi iklim yang akan berdampak langsung terhadap anak. Beberapa dampak yang dirasakan oleh anak yaitu gatal-gatal akibat penurunan kualitas air, pencemaran udara, berkurangnya ruang bermain untuk anak, hingga ancaman banjir luapan sungai. Harapannya, setelah diadakan kegiatan ini, anak-anak dapat lebih memahami tentang krisis iklim terutama tindakan preventif yang dapat dilakukan sesuai dengan kapasitas anak," ungkap Kahfi (17 Tahun) selaku anggota Child Campaigner Yogyakarta – Save the Children Indonesia. 


(Aktivitas ini merupakan bagian dari Aksi Generasi Iklim yang digagas oleh Save the Children Indonesia sejak April 2022. Foto: Dok. Istimewa)


Krisis iklim yang utamanya berkontribusi pada memanasnya suhu permukaan laut merupakan sumber dari tumbuhnya siklon tropis. Di Indonesia siklon tropis meningkat dari tahun ke tahun, mulai dari siklon tropis cempaka pada 2017 sampai dengan siklon tropis seroja 2021.
 
Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menjelaskan bahwa pada 2017, untuk kali pertama siklon tropis terjadi dua kali dalam setahun, selain waktu kejadian yang berdekatan, keduanya terbentuk di rentang yang semakin dekat dengan garis khatulistiwa. Dampak yang ditimbulkan dari fenomena siklon tersebut berupa potensi hujan lebat yang mengakibatkan banjir serta longsor.

Masih melekat dalam ingatan masyarakat terkait dampak kerusakan dan kerugian yang massif dari  fenomena siklon tropis cempaka, terutama bagi mereka yang tinggal berdekatan di bagian hilir sungai code yaitu di wilayah sungai opak dan juga di wilayah pertemuan anak sungai lainnya. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul menaksir kerugian materi akibat bencana bajir dan longsor pada 28 November 2017 sekitar Rp. 50 Miliar, setidaknya ada 245 lokasi yang terdampak dan jumlah pengungsi mencapai 7.929 jiwa termasuk anak-anak. Tak hanya genangan air yang mencapai 1,5 meter, tetapi juga area sawah dipenuhi dengan sampah plastik, popok bayi, bahkan kasur kapuk besar.
(yyy)

MOST SEARCH