COMMUNITY

Majukan Dunia Sains Indonesia, Ini 4 Perempuan Peneliti L’Oréal-UNESCO FWIS 2022

Yuni Yuli Yanti
Rabu 16 November 2022 / 07:00
Jakarta: Setiap tahunnya, melalui program For Women in Science, L’Oréal melihat begitu banyak perempuan peneliti dengan kemampuan luar biasa yang berada di garis depan penelitian, namun tetap masih ada kesenjangan gender global yang signifikan di semua bidang ilmiah. 

Pada 2021, UNESCO mencatat bahwa persentase perempuan peneliti di dunia hanyalah 33,3 persen. Sementara di Indonesia, menurut Survei Angkatan Kerja Nasional 2020, hanya 3 dari 10 perempuan Indonesia yang berkarier di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM). 

Tidak hanya itu, perempuan yang berkarier di dunia sains pun masih menghadapi berbagai rintangan seperti gender bias, diskriminasi hingga kekerasan seksual yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun, semua hal itu tidak menghentikan mereka. Para perempuan peneliti terus membuktikan peranan penting mereka dalam berbagai bidang penelitian. 

Oleh sebab itu, L’Oréal Indonesia kembali menggelar kegiatan L’Oréal-UNESCO For Women in Science untuk merayakan dan mendukung kiprah para perempuan peneliti Indonesia di bidang sains. 

"Bertepatan juga dengan Hari Pahlawan Nasional, kami berharap program ini dapat mencetak local heroes yang akan membawa nama harum Indonesia hingga level internasional. Melalui program ini, kami mengajak mereka yang percaya pada kesetaraan untuk bergabung bersama kami dalam meningkatkan kesadaran akan tantangan yang dihadapi oleh perempuan peneliti," tutur Fikri Alhabsie, Corporate Responsibility Director, L’Oréal Indonesia.


(Acara inagurasi 'L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2022' pada Kamis,10 November 2022 secara virtual. Foto: Dok. Yuni))

Fikri menyebutkan tahun ini empat perempuan terpilih dianugerahkan gelar L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2022 National Fellows dan masing-masing berhasil memenangkan pendanaan riset senilai Rp100 juta. 

Mereka adalah Novalia Pishesha, Ph.D. (Harvard University), yang berusaha mengurangi angkat kematian akibat penyakit malaria dengan memanfaatkan nanobody atau VHH dari Camelid family. Nurhasni Hasan, Ph.D.,Apt (Universitas Hasanuddin), melalui penelitiannya, ingin memberikan pilihan baru pengobatan kanker paru-paru. 

Sementara, Rindia Maharani Putri, Ph.D. (Insitut Teknologi Bandung) yang memanfaatkan cangkang biosilika dari mikroalga jenis Diatom sebagai drug delivery untuk obat-obatan seperti insulin. Serta, Anastasia Wheni Indrianingsih,Ph.D. (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang merancang adsorben pad agar masa simpan makanan segar dapat lebih panjang. 
(yyy)

MOST SEARCH