BEAUTY
Penjualan Parfum Pria Menguat di Tengah Lonjakan Pasar E-Commerce 2025
A. Firdaus
Sabtu 17 Januari 2026 / 12:10
Jakarta: Kategori parfum mencatatkan lonjakan penjualan signifikan di e-commerce Indonesia sepanjang 2025. Data terbaru dari Compas.co.id menunjukkan nilai penjualan kategori ini tumbuh hingga +53%, mencapai Rp6,1 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp4 triliun.
Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Selain jumlah unit terjual yang meningkat dari 84 juta menjadi 115 juta unit (+36%), harga rata-rata produk parfum juga mengalami kenaikan dari Rp47 ribu menjadi Rp53 ribu (+12%). Kombinasi kenaikan volume dan harga tersebut menandai tren konsumsi parfum yang semakin kuat di kanal digital.
Segmen parfum pria menjadi segmen dengan laju pertumbuhan tertinggi, naik +70%, dibandingkan dengan parfum wanita dan unisex yang bertumbuh +51%. Ini mengindikasikan semakin kuatnya kesadaran dan kebutuhan konsumen pria terhadap produk fragrance, terutama yang beraroma maskulin dan tahan lama.
"Kita sedang menyaksikan transformasi perilaku belanja pria di Indonesia. Dulu parfum pria lebih banyak dibeli secara offline, tapi kini sudah bergeser ke digital. Mereka mencari produk yang praktis, affordable, dan representatif terhadap gaya hidup mereka," ujar Hanindia Narendrata, CEO Compas.co.id.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen pria di Indonesia kini makin peduli terhadap aroma tubuh, dan menjadikan parfum sebagai bagian dari gaya hidup personal care mereka.
"Tren ini mencerminkan pergeseran penting di kalangan konsumen pria. Parfum tak lagi sekadar kebutuhan sekunder, tapi telah menjadi ekspresi diri yang menyatu dengan penampilan," Jelas Narendrata.
"Kami melihat brand-brand yang mengoptimalkan positioning maskulin dan strategi bundling digital berhasil menciptakan pertumbuhan yang sangat tinggi," tambahnya.
Beberapa brand yang menyasar segmen pria dengan positioning produk yang tepat, kemasan bundle, serta distribusi kuat di marketplace mampu mencetak pertumbuhan tiga digit. Sementara brand yang belum beradaptasi secara digital cenderung tertinggal, meski telah lama eksis di kategori ini.
"Data Compas menunjukkan bahwa kecepatan membaca tren, khususnya di e-commerce, menjadi faktor pembeda performa brand. Di tahun 2026, strategi komunikasi berbasis segmen pria, pemanfaatan campaign digital, dan kolaborasi KOL akan semakin menentukan keberhasilan," lanjut Hanindia.
Pergeseran ini menjadi momentum penting bagi brand dan pelaku industri parfum untuk membangun pendekatan yang lebih relevan di kanal digital. Dengan mengoptimalkan insight berbasis data, pelaku industri dapat merancang strategi produk dan pemasaran yang lebih tepat sasaran pada 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Selain jumlah unit terjual yang meningkat dari 84 juta menjadi 115 juta unit (+36%), harga rata-rata produk parfum juga mengalami kenaikan dari Rp47 ribu menjadi Rp53 ribu (+12%). Kombinasi kenaikan volume dan harga tersebut menandai tren konsumsi parfum yang semakin kuat di kanal digital.
Segmen parfum pria menjadi segmen dengan laju pertumbuhan tertinggi, naik +70%, dibandingkan dengan parfum wanita dan unisex yang bertumbuh +51%. Ini mengindikasikan semakin kuatnya kesadaran dan kebutuhan konsumen pria terhadap produk fragrance, terutama yang beraroma maskulin dan tahan lama.
"Kita sedang menyaksikan transformasi perilaku belanja pria di Indonesia. Dulu parfum pria lebih banyak dibeli secara offline, tapi kini sudah bergeser ke digital. Mereka mencari produk yang praktis, affordable, dan representatif terhadap gaya hidup mereka," ujar Hanindia Narendrata, CEO Compas.co.id.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen pria di Indonesia kini makin peduli terhadap aroma tubuh, dan menjadikan parfum sebagai bagian dari gaya hidup personal care mereka.
"Tren ini mencerminkan pergeseran penting di kalangan konsumen pria. Parfum tak lagi sekadar kebutuhan sekunder, tapi telah menjadi ekspresi diri yang menyatu dengan penampilan," Jelas Narendrata.
"Kami melihat brand-brand yang mengoptimalkan positioning maskulin dan strategi bundling digital berhasil menciptakan pertumbuhan yang sangat tinggi," tambahnya.
Beberapa brand yang menyasar segmen pria dengan positioning produk yang tepat, kemasan bundle, serta distribusi kuat di marketplace mampu mencetak pertumbuhan tiga digit. Sementara brand yang belum beradaptasi secara digital cenderung tertinggal, meski telah lama eksis di kategori ini.
"Data Compas menunjukkan bahwa kecepatan membaca tren, khususnya di e-commerce, menjadi faktor pembeda performa brand. Di tahun 2026, strategi komunikasi berbasis segmen pria, pemanfaatan campaign digital, dan kolaborasi KOL akan semakin menentukan keberhasilan," lanjut Hanindia.
Pergeseran ini menjadi momentum penting bagi brand dan pelaku industri parfum untuk membangun pendekatan yang lebih relevan di kanal digital. Dengan mengoptimalkan insight berbasis data, pelaku industri dapat merancang strategi produk dan pemasaran yang lebih tepat sasaran pada 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)