End Google Analytics -->
BEAUTY

Benarkah Krim Retinoid Bantu Obati Jerawat?

Medcom
Selasa 03 Januari 2023 / 11:05
Jakarta: Jerawat merupakan masalah umum yang kerap kali dialami banyak orang. Sederhananya, jika kamu sering berjerawat, maka kamu bisa mengatakan bahwa kamu memiliki jenis kulit yang rentan berjerawat (acne prone). 

Ane prone skin adalah kondisi kulit kronis jangka panjang yang membutuhkan perawatan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun agar bisa ditangani. Beberapa orang mulai mencari krim atau serum untuk wajah yang dapat mengurangi permasalahan kulit

Dalam situasi seperti itu, retinoid dianggap sebagai bahan terbaik untuk mengurangi jerawat dan tanda-tanda penuaan.
 

Kenapa memilih retinoid?


Dalam sebuah jurnal kesehatan dari National Library of Medicine, kelompok ahli dermatologi yang berfokus pada jerawat secara konsisten merekomendasikan agar sebagian besar pasien dengan jerawat diobati dengan kombinasi retinoid topikal dan terapi antimikroba. 

Ini didasarkan pada data klinis serta bukti bahwa obat ini memiliki mekanisme aksi yang berbeda dan saling melengkapi yang menargetkan berbagai aspek patofisiologi kompleks jerawat. 

Pedoman berbasis bukti terbaru untuk jerawat, termasuk dari American Academy of Dermatology (AAD) dan European Dermatology Forum (EDF), telah sepakat bahwa retinoid memiliki peran penting dalam penyebaran penyakit ini.


(Ada baiknya kamu berkonsultasi ke dokter dalam menggunakan krim untuk mengobati jerawat yang membandel. Foto: Ilustrasi/Dok. Unsplash.com)
 

Cara kerja retinoid pada jerawat


Jika kamu memiliki jerawat sedang hingga parah yang tidak membaik dengan perawatan lain, retinoid dapat membantu.

Retinoid mengurangi wabah jerawat dengan mencegah sel-sel mati menyumbat pori-pori. Dengan membersihkan jerawat dan mengurangi wabah, retinoid juga dapat mengurangi bekas jerawat.

Cara penggunaan: Ratakan krim retinoid seukuran kacang polong pada kulit sekali sehari 20 hingga 30 menit setelah mencuci muka. 
 

Adakah efek sampingnya?


Tolerabilitas terapi retinoid topikal dapat disertai dengan iritasi kulit, termasuk mengelupas, eritema, iritasi, atau kekeringan, yang biasanya diamati dalam beberapa minggu pertama pengobatan dan kemudian mereda. 

Secara klinis, iritasi akibat retinoid bersifat superfisial, ringan sampai sedang, dan terbatas pada epidermis. Kamu bisa mengurangi efeknya dengan menggunakan produk setiap dua hari sekali sampai tubuh terbiasa, atau mencampurnya dengan pelembap.

Selama proses normalisasi deskuamasi (proses pengelupasan), susunan korneosit dapat terganggu dengan hilangnya kohesi. Setelah beberapa minggu pengobatan, korneosit tersusun kembali, deskuamasi menjadi normal, dan iritasi teratasi. 

Dalam uji klinis retinoid, puncak iritasi kulit biasanya terjadi dalam satu hingga dua minggu pertama dan mereda setelahnya. Efek retinoid pada jalur antiinflamasi dan mikrokomedo kemudian menjadi menonjol.


Nandhita Nur Fadjriah

(TIN)

MOST SEARCH