Jakarta: Ketua Olimpiade Tokyo 2020, Yoshiro Mori, resmi mengundurkan diri pada Jumat, 12 Februari 2021. Dia kembali meminta maaf atas pernyataan seksis yang memicu protes global.
"Pernyataan saya yang tidak pantas telah menyebabkan masalah besar. Saya minta maaf," kata Mori pada awal pertemuan para pejabat senior dalam panitia penyelenggara. Dia menambahkan bahwa hal terpenting saat ini adalah mensukseskan Olimpiade Tokyo.
Mori mengatakan bahwa meskipun mungkin telah mengatakan sesuatu yang tidak perlu, dia tidak melakukannya dengan sengaja dan merasa pernyataannya disalah-artikan oleh media. Dia menegaskan tidak berprasangka buruk terhadap perempuan.
"Saya sudah berusaha mendukung wanita sebesar mungkin, dan saya telah berusaha mendukung wanita lebih dari kepada laki-laki sehingga mereka bisa berbicara ....," katanya.
"Ada saat-saat manakala orang tidak mau mengangkat tangan dan tidak mau angkat bicara, dan saya akan berusaha keras mengatakan tolong bicara dan saya merasa wanita sudah bisa berbicara banyak."
Pengunduran diri Yoshiro Mori membuat Olimpiade yang terancam tak terselenggara itu harus mencari pemimpin lima bulan sebelum mulai digelar.
"Di antara kandidat yang dianggap bisa menggantikan Mori adalah Menteri Olimpiade Seiko Hashimoto," kata media.
Hashimoto, 56, adalah atlet Olimpiade tujuh kali dan anggota parlemen wanita perintis. Nama depannya diambil dari kata-kata Jepang untuk nyala api Olimpiade dan dia lahir beberapa hari sebelum Olimpiade Tokyo 1964 dibuka.
Sebelumnya, Mori memicu kehebohan ketika dalam pertemuan komite Olimpiade awal bulan ini mengatakan bahwa wanita berbicara terlalu banyak sehingga memicu protes global agar dia dipecat karena menolak mundur.
Sehari sebelumnya Mori meminta wali Kota Desa Olimpiade, Saburo Kawabuchi yang berusia 84 tahun, agar mengambil alih posisi teratas, tetapi setelah publik mengkritiknya karena Kawabuchi juga dari generasi Mori maka sang calon menolak jabatan itu.
"Kontroversi Mori telah menciptakan kerusakan reputasi yang serius pada Olimpiade Tokyo," kata salah satu sumber yang terlibat dalam Olimpiade. Dia menambahkan banyak pejabat menginginkan Mori diganti perempuan.
Gubernur Tokyo Yuriko Koike yang merupakan pelopor pemimpin wanita pertama Tokyo, menghindari memberikan jawaban langsung ketika ditanya tentang siapa penerus Mori yang seharusnya. Namun dia menyatakan orang itu harus mewujudkan cita-cita Olimpiade tentang inklusivitas dan menjadi orang yang bisa diterima dunia.
"Keragaman dan harmoni adalah hala yang perlu dipahami, diwujudkan, dan disiarkan oleh orang di puncak. Saya kira ini hal yang penting," kata Koike. AFP PHOTO/Yoshikazu Tsuno Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News