Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat beserta 6 tersangka lainnya dihadirkan saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta.
Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat beserta 6 tersangka lainnya dihadirkan saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta.
Novi Rahman tampak memakai oranye atau baju tahanan dengan tangan diborgol.
Novi Rahman tampak memakai oranye atau baju tahanan dengan tangan diborgol.
Kadiv Humas Mabes Polri Argo Yuwono (tengah) didampingi oleh Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono (kanan) dan Dirtipidkor Brigjen Pol Djoko Poerwanto (kiri) menunjukan barang bukti saat pengungkapan kasus OTT Bupati Nganjuk di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2021.
Kadiv Humas Mabes Polri Argo Yuwono (tengah) didampingi oleh Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono (kanan) dan Dirtipidkor Brigjen Pol Djoko Poerwanto (kiri) menunjukan barang bukti saat pengungkapan kasus OTT Bupati Nganjuk di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2021.
Novi Rahman akan ditahan di rutan Bareskrim Polri.
Novi Rahman akan ditahan di rutan Bareskrim Polri.

Potret Bupati Nganjuk Berbaju Oranye dan Diborgol

News kasus korupsi OTT KPK korupsi bupati nganjuk
11 Mei 2021 12:01
Jakarta: Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat beserta 6 tersangka lainnya dihadirkan saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2021. Novi Rahman tampak memakai oranye atau baju tahanan dengan tangan diborgol.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama dengan Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Mabes Polri telah menetapkan Bupati Ngajuk Novi Rahman Hidayat sebagai tersangka jual beli jabatan. 

Selain Novi, enam orang lain ikut menjadi tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah DR (Camat Pace), ES (Camat Tanjunganom dan sebagai Plt Camat Sukomoro), HY (Camat Berbek) yang masing-masing disebut sebagai pemberi hadiah atau janji, lalu BS (Camat Loceret), TBW (Mantan Camat Sukomoro), dan MIM (Ajudan Bupati Nganjuk) yang diduga menjadi perantara penyerahan uang dari para camat ke Bupati Nganjuk.

Dari hasil operasi tangkap tangan (OTT) itu, uang sebesar Rp 647,9 juta dan delapan unit telepon genggam disita.

Kasus jual-beli jabatan yang menjerat Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat akhirnya ditangani Bareskrim Polri meski awalnya dari operasi tangkap tangan (OTT) bersama KPK. Kolaborasi ini disebut yang perdana bagi 2 penegak hukum itu dalam urusan penangkapan terhadap kepala daerah.

Novi Rahman akan ditahan di rutan Bareskrim Polri.

“Untuk para tersangka ini dikenakan pasal 5 ayat 1. Ini ancamannya maksimal paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp250 juta ini. Ini diberikan kepada para Camat ini dikenakan pasal undang-undang korupsi Nomor 31 tahun 1999 dan sebagaimana diubah nomor 20 tahun 2001,” kata Argo Yuwono.

“Sedangkan untuk Bupati kita kenakan pasal 5 ayat 2 dan atau pasal 11 dan atau pasal 12B undang-undang RI Nomor 31 tahun 99 tentang perubahan undang-undang RI Nomor 31 tahun 199 tentang tindak pidana korupsi,” tambahnya.

Selain Novi Rahman Hidhayat dan sejumlah Camat, Argo mengatakan ajudan Bupati Nganjuk juga dikenakan pasal 5 ayat 2 dan atau pasal 11 pasal 12 B.

“Kemudian dari semua tersangka juga dijuntokan ke pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP,” tambahnya. MI/Andri Widiyanto

(KHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif