Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI kembali menyelenggarakan program BNPP MENYALA (Menyapa Langsung Mahasiswa) dalam bentuk kuliah umum interaktif di Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 25 April 2026.
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI kembali menyelenggarakan program BNPP MENYALA (Menyapa Langsung Mahasiswa) dalam bentuk kuliah umum interaktif di Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 25 April 2026.
Kegiatan ini menjadi upaya strategis BNPP RI untuk memperkuat pemahaman generasi muda terkait pengelolaan kawasan perbatasan negara sebagai bagian penting masa depan Indonesia. BNPP dipimpin Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI secara ex officio.
Kegiatan ini menjadi upaya strategis BNPP RI untuk memperkuat pemahaman generasi muda terkait pengelolaan kawasan perbatasan negara sebagai bagian penting masa depan Indonesia. BNPP dipimpin Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI secara ex officio.
Kuliah umum dibuka Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI, Nurdin. Ia memaparkan kompleksitas pengelolaan batas wilayah Indonesia yang memiliki perbatasan laut dengan 10 negara dan perbatasan darat dengan tiga negara.
Kuliah umum dibuka Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI, Nurdin. Ia memaparkan kompleksitas pengelolaan batas wilayah Indonesia yang memiliki perbatasan laut dengan 10 negara dan perbatasan darat dengan tiga negara.

BNPP RI Ajak Mahasiswa Bangun Masa Depan Kawasan Perbatasan

26 April 2026 15:38

Jakarta: Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI kembali menyelenggarakan program BNPP MENYALA (Menyapa Langsung Mahasiswa) dalam bentuk kuliah umum interaktif di Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 25 April 2026.

Kegiatan ini menjadi upaya strategis BNPP RI untuk memperkuat pemahaman generasi muda terkait pengelolaan kawasan perbatasan negara sebagai bagian penting masa depan Indonesia. BNPP dipimpin Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI secara ex officio.

Kuliah umum dibuka Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI, Nurdin. Ia memaparkan kompleksitas pengelolaan batas wilayah Indonesia yang memiliki perbatasan laut dengan 10 negara dan perbatasan darat dengan tiga negara.

Menurut Nurdin, pembangunan perbatasan tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan. 

“Tanpa ekonomi yang maju dan produktivitas yang tinggi, kesejahteraan akan lama kita capai. Karena itu, membangun perbatasan berarti membangun ekonomi rakyatnya,” tuturnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Nurdin juga mendorong para mahasiswa untuk memanfaatkan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sebagai laboratorium belajar lapangan. Ia menjelaskan bahwa pergerakan orang dan barang yang terus meningkat di PLBN Terpadu merupakan indikator kemajuan ekonomi sekaligus peluang emas yang perlu dikelola secara optimal, khususnya di PLBN Motaain dan Motamasin yang menjadi sentra pertumbuhan ekonomi di NTT serta pemasok utama kebutuhan Timor Leste.

“Masa depan Indonesia bukan hanya Jakarta. Masa depan Indonesia berada di garis batas wilayah negara. Seperti semboyan BNPP, Kita Jaga Wilayahnya, Kita Sejahterakan Rakyatnya,” tegas Nurdin.

Narasumber kedua, Kelompok Ahli BNPP RI Hamidin, memaparkan materi geopolitik dan urgensi perbatasan Indonesia di tengah dinamika global. Ia menilai ketegangan geopolitik dunia berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan politik global, sehingga pengelolaan perbatasan ke depan harus berorientasi pada penguatan ekonomi dan kerja sama bilateral.

“Berbicara perbatasan masa depan tidak cukup hanya soal pertahanan dan keamanan. Itu penting, tetapi fokus utama adalah menghidupkan ekonomi dengan kerja sama yang setara,” ujar Hamidin.

Ia menekankan pentingnya manajemen perbatasan berbasis teknologi, penguatan peran Border Liaison Officer (BLO), serta sinkronisasi antarlembaga agar pengelolaan perbatasan semakin efektif dan modern.

Hamidin optimistis, dengan pengelolaan yang terintegrasi, kawasan perbatasan Indonesia dalam satu dekade ke depan akan menjadi kawasan yang maju dan tidak kalah dengan model pengelolaan perbatasan dunia. “Pada akhirnya, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat perbatasan yang semakin sejahtera,” katanya.

Sementara itu, narasumber ketiga, Letkol Arm Dr. Erlan Wijatmoko, menjelaskan peran dan fungsi strategis Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12/Kostrad sebagai garda terdepan di kawasan perbatasan. Ia menegaskan bahwa tugas satgas pamtas tidak hanya berfokus pada pengamanan, tetapi juga pada kegiatan teritorial untuk membantu masyarakat perbatasan sebagai wujud kehadiran negara. 

Dari pihak akademik, Dekan Fakultas Vokasi Logistik Militer Unhan RI, Marsekal Muda TNI Dr. Penny Radjendra, berharap kuliah umum ini dapat memperkaya wawasan strategis para mahasiswa. Ia menilai materi yang disampaikan menjadi bekal penting dalam membentuk kompetensi dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan, khususnya di bidang logistik dan pengelolaan wilayah perbatasan, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Unhan RI dan BNPP RI.

Kepala Biro Keuangan, Umum, dan Humas BNPP RI, Belly Isnaeni, menambahkan bahwa melalui BNPP MENYALA, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami peran dan fungsi BNPP RI, tetapi juga memiliki kepedulian dan semangat berkontribusi dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Sebagai penutup, kegiatan BNPP MENYALA di Politeknik Ben Mboi, Unhan RI ini menjadi ruang strategis dialog antara BNPP RI, akademisi, dan generasi muda dalam menanamkan kesadaran bahwa kawasan perbatasan adalah beranda depan Indonesia. Dengan pengetahuan, kolaborasi, dan semangat pengabdian, generasi muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan perbatasan yang berdaulat, maju, dan sejahtera. Dok. Istimewa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

News BNPP Mahasiswa Perbatasan Indonesia