Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia kini merambah pasar modal. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang sahamnya dan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.
Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia kini merambah pasar modal. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang sahamnya dan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.
Huayou memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, termasuk investasi pada sektor nikel di Indonesia. Perusahaan asal Tiongkok tersebut terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerja sama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Huayou memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, termasuk investasi pada sektor nikel di Indonesia. Perusahaan asal Tiongkok tersebut terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerja sama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

​Dinamika Pasar Modal Sentuh Industri Baterai Kendaraan Listrik

23 Februari 2026 20:46
Jakarta: Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia kini merambah pasar modal. PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang sahamnya dan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.

Dalam keterbukaan informasi pada 19 Februari 2026, Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham atau setara 80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Aksi ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang sebelumnya telah disampaikan perseroan pada November 2025.

Dragonmine Mining merupakan perusahaan privat yang berkantor pusat di Hong Kong dan dimiliki oleh Huayou Hongkong Limited. Berdasarkan penelusuran berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd yang berperan sebagai unit investasi luar negeri di sektor pertambangan dan mineral.

Huayou memiliki lima pilar bisnis yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, termasuk investasi pada sektor nikel di Indonesia. Perusahaan asal Tiongkok tersebut terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerja sama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama menilai terdapat potensi perubahan model bisnis BLUE pasca pergantian pengendali. Menurut dia, langkah tersebut berpotensi menjadi jalur masuk bagi perusahaan dengan fundamental lebih kuat melalui skema backdoor listing.

“Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ujar Ezar.

Fenomena serupa sebelumnya terjadi pada PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) yang diakuisisi PT Eco Energi Perkasa milik Deng Weiming, pendiri CNGR, produsen prekursor baterai global. Setelah akuisisi, PACK berganti nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel.

Sebagai produsen tinta dan alat tulis, BLUE kini menghadapi prospek transformasi bisnis menyusul rencana akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Huayou diketahui telah memiliki investasi besar di kawasan industri nikel seperti Morowali dan Pomalaa.

Pergerakan saham BLUE turut mencerminkan ekspektasi pasar. Harga saham perseroan melonjak 117% secara year to date dan hampir 1.900% dalam satu tahun terakhir. Namun saham BLUE sempat terkoreksi di tengah volatilitas pasar setelah pengumuman CSPA.

Bagi perusahaan global seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten berkapitalisasi kecil dinilai lebih efisien dibandingkan melakukan penawaran umum perdana (IPO) baru. Melalui entitas yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia, perusahaan dapat menghimpun dana dari investor domestik maupun institusi melalui rights issue guna mendanai proyek hilirisasi nikel.

Kehadiran entitas publik juga meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal, sekaligus memperkuat profil environmental, social, and governance (ESG) di mata investor global. MI.Ramdani

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

News Kendaraan Listrik Baterai Kendaraan Listrik