Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti perubahan pola penyebaran ekstremisme di ruang digital. Narasi ekstremisme kini dapat menjangkau masyarakat melalui kanal digital yang digunakan sehari-hari, termasuk media sosial dan berbagai ruang interaksi daring.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar mengatakan perubahan tersebut lebih terlihat pada jalur distribusi narasi dibandingkan muatan ideologinya.
“Ancaman narasinya yang berubah saat ini bukan muatan ideologinya, tetapi jalur distribusinya,” ujar Alexander dalam diskusi publik bertema Mewaspadai Ancaman Algoritma Ekstremisme di Ruang Digital di Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Alexander, narasi kekerasan dapat muncul melalui kanal yang sama dengan konten hiburan, termasuk konten yang dikonsumsi anak-anak dan generasi muda. Materi tersebut dapat dikemas menggunakan bahasa, format, dan estetika yang familiar sehingga paparan awal terhadap narasi ekstremisme tidak selalu mudah dikenali.
Alexander menjelaskan sistem rekomendasi platform digital bekerja berdasarkan perilaku pengguna. Interaksi dengan suatu jenis konten dapat memengaruhi rekomendasi konten serupa yang kemudian muncul di perangkat pengguna.
“Ketika teman-teman mahasiswa, adik-adik siswa SMA, satu kali saja mengklik konten kekerasan misalnya, maka algoritma akan memberikan konten itu terus-menerus ke gadget adik-adik,” ujarnya.
Ia menambahkan, potensi paparan tidak hanya berasal dari media sosial terbuka, tetapi juga forum penggemar, komunitas tertutup, game daring, hingga ruang percakapan digital yang sulit dipantau.
Ruang Digital Jadi Perhatian
Perwakilan Densus 88 Antiteror Polri di Sulawesi Selatan, AKP M. Faisal, mengatakan kelompok teror memanfaatkan ruang digital untuk komunikasi dan perekrutan.
“Dari sekian banyak teroris yang dilakukan penegakan hukum oleh Densus 88, 30 persen berasal atau terpapar dari media sosial,” kata Faisal.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks paparan Faisal mengenai penanganan terorisme. Menurut dia, kelompok usia muda menjadi salah satu sasaran perekrutan, terutama mereka yang masih berada dalam fase pencarian jati diri.
Faisal mengatakan Densus 88 telah melakukan upaya pencegahan di ruang digital terkait radikalisme, terorisme, dan ekstremisme sejak 2021.
Sementara itu, Kompol Deni Ratmodiharjo dari Ditintelkam Polda Sulawesi Selatan mengatakan kepolisian melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi ancaman di ruang digital, mulai dari radikalisme, terorisme, hoaks, ujaran kebencian, hingga informasi provokatif yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial.
Algoritma dan Pembentukan Persepsi
Dosen Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Andi Ali Armundato menilai algoritma dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perhatian pengguna terhadap suatu jenis konten.
“Algoritma itu mengendalikan apa yang kita perhatikan,” ujarnya.
Menurut Andi, proses tersebut dapat berlangsung secara bertahap, mulai dari membuat seseorang tertarik terhadap suatu konten, mempercayainya, hingga mendorong perubahan perilaku.
Diskusi publik tersebut diselenggarakan Ditjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi bersama Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Hasanuddin. Kegiatan diikuti mahasiswa, pelajar, dosen, serta sejumlah pemangku kepentingan di bidang keamanan dan ruang digital. Dok. Komdigi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News