University Hospital Antwerp, Belgia, kini memiliki robot yang dapat berbicara lebih dari 53 bahasa, mendeteksi demam, dan menentukan orang memakai masker atau tidak, sebagai garis kontrol terdepan di rumah sakit.
University Hospital Antwerp, Belgia, kini memiliki robot yang dapat berbicara lebih dari 53 bahasa, mendeteksi demam, dan menentukan orang memakai masker atau tidak, sebagai garis kontrol terdepan di rumah sakit.
Orang yang datang ke University Hospital Antwerp, mulai Selasa, 26 Mei, akan menjawab pertanyaan secara 'online' atau di kios interaktif. Robot tersebut akan memindai kode QR, memeriksa jawaban, memeriksa suhu, dan memeriksa apakah pengunjung mengenakan masker dengan benar.
Orang yang datang ke University Hospital Antwerp, mulai Selasa, 26 Mei, akan menjawab pertanyaan secara 'online' atau di kios interaktif. Robot tersebut akan memindai kode QR, memeriksa jawaban, memeriksa suhu, dan memeriksa apakah pengunjung mengenakan masker dengan benar.
Kepala eksekutif Zorabots, Fabrice Goffin, mengatakan bahwa robot tersebut telah ada di rumah sakit dan hotel sejak 2013, namun kini memiliki peran baru. Robot tersebut tidak menguji covid-19, namun bisa mendeteksi tanda-tanda yang berguna.
Kepala eksekutif Zorabots, Fabrice Goffin, mengatakan bahwa robot tersebut telah ada di rumah sakit dan hotel sejak 2013, namun kini memiliki peran baru. Robot tersebut tidak menguji covid-19, namun bisa mendeteksi tanda-tanda yang berguna.
Manager operasi rumah sakit, Michael Vanmechelen, mengatakan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda demam dapat diarahkan oleh robot, perangkat tanpa-sentuh, menuju ke area terpisah.
Manager operasi rumah sakit, Michael Vanmechelen, mengatakan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda demam dapat diarahkan oleh robot, perangkat tanpa-sentuh, menuju ke area terpisah.
Kepala digitopia, Jan Bussels, yang mengembangkan perangkat lunak dan antarmuka, mengatakan bahwa robot tersebut dirancang untuk membantu mengambil alih pekerjaan yang berulang dan memungkinkan staf medis yang memiliki banyak tugas untuk fokus pada pekerjaan inti mereka, yaitu memberi perawatan.
Kepala digitopia, Jan Bussels, yang mengembangkan perangkat lunak dan antarmuka, mengatakan bahwa robot tersebut dirancang untuk membantu mengambil alih pekerjaan yang berulang dan memungkinkan staf medis yang memiliki banyak tugas untuk fokus pada pekerjaan inti mereka, yaitu memberi perawatan.
Robot, yang dibanderol dengan harga 30.000 euro atau sekitar Rp488 juta, itu telah dijual ke sejumlah klinik di Prancis, Belanda, Amerika Serikat, dan Rwanda, dan juga di beberapa toko komputer di Belgia.
Robot, yang dibanderol dengan harga 30.000 euro atau sekitar Rp488 juta, itu telah dijual ke sejumlah klinik di Prancis, Belanda, Amerika Serikat, dan Rwanda, dan juga di beberapa toko komputer di Belgia.

RS di Belgia Dilengkapi Robot Patroli Covid-19

Internasional Virus Korona
30 Mei 2020 14:30
Antwerp: University Hospital Antwerp, Belgia, kini memiliki robot yang dapat berbicara lebih dari 53 bahasa, mendeteksi demam, dan menentukan orang memakai masker atau tidak, sebagai garis kontrol terdepan di rumah sakit.

Orang yang datang ke University Hospital Antwerp, mulai Selasa, 26 Mei, akan menjawab pertanyaan secara 'online' atau di kios interaktif. Robot tersebut akan memindai kode QR, memeriksa jawaban, memeriksa suhu, dan memeriksa apakah pengunjung mengenakan masker dengan benar.

Kepala eksekutif Zorabots, Fabrice Goffin, mengatakan bahwa robot tersebut telah ada di rumah sakit dan hotel sejak 2013, namun kini memiliki peran baru. Robot tersebut tidak menguji covid-19, namun bisa mendeteksi tanda-tanda yang berguna.

"Robot ini dapat bergerak, dapat menghampiri orang, dapat berbicara dengan orang dan berbicara dalam bahasa asli mereka, dengan lebih dari 53 bahasa," kata Goffin.

Manager operasi rumah sakit, Michael Vanmechelen, mengatakan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda demam dapat diarahkan oleh robot, perangkat tanpa-sentuh, menuju ke area terpisah.

Rumah sakit biasanya menerima 2.000 pasien sehari dan akan mulai menerima kembali pengunjung minggu depan karena kehidupan di Belgia kembali relatif normal setelah pembatasan wilayah karena virus korona.

Kepala digitopia, Jan Bussels, yang mengembangkan perangkat lunak dan antarmuka, mengatakan bahwa robot tersebut dirancang untuk membantu mengambil alih pekerjaan yang berulang dan memungkinkan staf medis yang memiliki banyak tugas untuk fokus pada pekerjaan inti mereka, yaitu memberi perawatan.

Robot, yang dibanderol dengan harga 30.000 euro atau sekitar Rp488 juta, itu telah dijual ke sejumlah klinik di Prancis, Belanda, Amerika Serikat, dan Rwanda, dan juga di beberapa toko komputer di Belgia. AFP PHOTO/Kenzo Tribouillard
(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif