Pengadilan Korea Selatan menjatuhi hukuman 40 tahun penjara terhadap Cho ju-bin, pimpinan jaringan pelecehan seks online terbesar di negara tersebut.
Pengadilan Korea Selatan menjatuhi hukuman 40 tahun penjara terhadap Cho ju-bin, pimpinan jaringan pelecehan seks online terbesar di negara tersebut.
Cho Ju-bin (24) dinyatakan bersalah menjalankan jaringan online yang memeras setidaknya 74 wanita, termasuk 16 remaja, ke dalam apa yang disebut pihak berwenang sebagai
Cho Ju-bin (24) dinyatakan bersalah menjalankan jaringan online yang memeras setidaknya 74 wanita, termasuk 16 remaja, ke dalam apa yang disebut pihak berwenang sebagai "perbudakan virtual".

Pemimpin Jaringan Pelecehan Seks Online di Korsel Dipenjara 40 Tahun

Internasional pornografi korea selatan pelecehan seks
26 November 2020 14:49
Seoul: Pengadilan Korea Selatan menjatuhi hukuman 40 tahun penjara terhadap Cho ju-bin, pimpinan jaringan pelecehan seks online terbesar di negara tersebut.

Cho Ju-bin (24) dinyatakan bersalah menjalankan jaringan online yang memeras setidaknya 74 wanita, termasuk 16 remaja, ke dalam apa yang disebut pihak berwenang sebagai "perbudakan virtual".

Dia memaksa korbannya untuk mengirimkan foto-foto seksual diri mereka yang merendahkan dan terkadang disertai kekerasan. Aksi ini terjadi antara bulan Mei 2019 dan Februari 2020.

Sedikitnya 10.000 orang menggunakan chatroom yang dia kelola. Beberapa di antara mereka membayar hingga US$1.200 (Rp17 juta) untuk mendapat akses.

Pengadilan Distrik Pusat Seoul menghukum Cho karena melanggar hukum pidana dan perlindungan anak dengan membuat dan merilis pornografi dan menjalankan organisasi kriminal.

Kasus tersebut memicu protes nasional, dengan jutaan warga Korea menandatangani petisi yang mendesak pihak berwenang untuk membuka identitas Cho dan menyelidiki tidak hanya penyelenggara, tetapi juga peserta jaringan yang membayar sebanyak 1,5 juta won (US$ 1.360) untuk melihat video yang melecehkan dan gambar-gambarnya.

Polisi mengatakan setidaknya 124 tersangka telah ditangkap. Selain itu, 18 operator ruang obrolan di Telegram dan media sosial lainnya, termasuk Cho, ditahan setelah penyelidikan kejahatan seksual serupa sejak akhir tahun lalu. AFP Photo/Yonhap

(KHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif