Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang resmi dilantik pada Kamis, 21 Januari 2021 dini hari WIB, bersumpah untuk mengakhiri 'perang tak beradab' di negaranya yang terpecah belah dan terguncang oleh ekonomi yang terpuruk dan pandemi virus korona yang telah menewaskan lebih dari 400 ribu warganya.
Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang resmi dilantik pada Kamis, 21 Januari 2021 dini hari WIB, bersumpah untuk mengakhiri 'perang tak beradab' di negaranya yang terpecah belah dan terguncang oleh ekonomi yang terpuruk dan pandemi virus korona yang telah menewaskan lebih dari 400 ribu warganya.
"Melalui cobaan selama berabad-abad, Amerika telah diuji lagi, dan Amerika telah bangkit menghadapi tantangan. Hari ini kita merayakan kemenangan bukan dari seorang kandidat, tetapi karena sebuah tujuan: demokrasi [...] Pada saat ini, teman-temanku, demokrasi telah menang," kata Biden saat menyampaikan pidato pelantikannya.
"Untuk mengatasi tantangan ini, untuk memulihkan jiwa, dan mengamankan masa depan, Amerika membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Ini membutuhkan hal yang paling sulit dipahami dari semua hal dalam demokrasi: persatuan," tambah Biden.
"Kita harus mengakhiri perang tidak beradab yang mempertemukan warna merah dengan biru, pedesaan versus perkotaan, konservatif versus liberal. Kita bisa melakukan ini---jika kita membuka jiwa kita alih-alih mengeraskan hati kita," tegasnya.
"Di sini kami berdiri, hanya beberapa hari setelah gerombolan massa berpikir mereka dapat menggunakan kekerasan untuk membungkam keinginan rakyat, menghentikan pekerjaan demokrasi kami, untuk mengusir kami dari tanah suci ini. Itu tidak terjadi; itu tidak akan pernah terjadi. Tidak hari ini, tidak besok, tidak selamanya," Biden menegaskan.

Pidato Usai Dilantik, Presiden Biden Bersumpah Akhiri Perpecahan di AS

Internasional amerika serikat joe biden Kamala Harris Pelantikan Joe Biden
21 Januari 2021 05:07
Washington: Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang resmi dilantik pada Kamis, 21 Januari 2021 dini hari WIB, bersumpah untuk mengakhiri 'perang tak beradab' di negaranya yang terpecah belah dan terguncang oleh ekonomi yang terpuruk dan pandemi virus korona yang telah menewaskan lebih dari 400 ribu warganya.

Sambil meletakkan tangan di atas Alkitab warisan keluarganya selama lebih dari seabad, Biden mengambil sumpah jabatan yang dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung AS John Roberts, yang mengikat Presiden untuk 'melestarikan, melindungi, dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat'.

"Melalui cobaan selama berabad-abad, Amerika telah diuji lagi, dan Amerika telah bangkit menghadapi tantangan," kata Biden saat menyampaikan pidato pelantikannya.

"Hari ini kita merayakan kemenangan bukan dari seorang kandidat, tetapi karena sebuah tujuan: demokrasi [...] Pada saat ini, teman-temanku, demokrasi telah menang," ujar Biden.

"Untuk mengatasi tantangan ini, untuk memulihkan jiwa, dan mengamankan masa depan, Amerika membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Ini membutuhkan hal yang paling sulit dipahami dari semua hal dalam demokrasi: persatuan," tambah Biden.

"Kita harus mengakhiri perang tidak beradab yang mempertemukan warna merah dengan biru, pedesaan versus perkotaan, konservatif versus liberal. Kita bisa melakukan ini---jika kita membuka jiwa kita alih-alih mengeraskan hati kita," tegasnya.

"Di sini kami berdiri, hanya beberapa hari setelah gerombolan massa berpikir mereka dapat menggunakan kekerasan untuk membungkam keinginan rakyat, menghentikan pekerjaan demokrasi kami, untuk mengusir kami dari tanah suci ini. Itu tidak terjadi; itu tidak akan pernah terjadi. Tidak hari ini, tidak besok, tidak selamanya," Biden menegaskan.
  
Biden (78) menjadi Presiden AS tertua dalam sejarah, dilantik dalam upacara berskala kecil di Washington karena kekhawatiran akan covid dan keamanan, menyusul serangan di Kongres AS atau US Capitol oleh para pendukung mantan Presiden Donald Trump, 6 Januari lalu.

Biden mulai menjabat pada saat AS menghadapi kegelisahan mendalam akibat empat krisis utama, yaitu pandemi, ekonomi, perubahan iklim, serta ketidaksetaraan rasial. Untuk itu, dia telah menjanjikan tindakan segera, termasuk serangkaian perintah eksekutif pada hari pertamanya menjabat sebagai Presiden AS. AFP PHOTO/Patrick Semansky/Andrew Caballero-Reynolds/Rob Carr/Alex Wong

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif