Daerah pedesaan seperti Arzo, pinggiran Kota Ghazni menanggung beban konflik dua dekade di mana gerilyawan Taliban menghadapi pasukan AS, NATO, dan Afghanistan, dengan korban sipil yang ditimbulkan oleh kedua sisi.
Daerah pedesaan seperti Arzo, pinggiran Kota Ghazni menanggung beban konflik dua dekade di mana gerilyawan Taliban menghadapi pasukan AS, NATO, dan Afghanistan, dengan korban sipil yang ditimbulkan oleh kedua sisi.
Keluarga perlahan kembali ke reruntuhan Arzo untuk mencoba memulai hidup baru dan membangun kembali rumah mereka.
Keluarga perlahan kembali ke reruntuhan Arzo untuk mencoba memulai hidup baru dan membangun kembali rumah mereka.
Salah satu warga, Lailuma, 55, kehilangan putrinya dalam baku tembak antara pasukan Afghanistan dan pemberontak. Suaminya selamat dari peluru di kepala, tetapi tidak bisa lagi bekerja. Pertama kali rumahnya runtuh dalam pertempuran, dia membangunnya kembali. Namun kali ini, dia tidak punya uang lagi.
Salah satu warga, Lailuma, 55, kehilangan putrinya dalam baku tembak antara pasukan Afghanistan dan pemberontak. Suaminya selamat dari peluru di kepala, tetapi tidak bisa lagi bekerja. Pertama kali rumahnya runtuh dalam pertempuran, dia membangunnya kembali. Namun kali ini, dia tidak punya uang lagi.
Rafiullah, 65, seorang guru di sekolah putri setempat, kehilangan putrinya, akibat peluru nyasar. Sang putri meninggal dua minggu sebelum pernikahannya.
Rafiullah, 65, seorang guru di sekolah putri setempat, kehilangan putrinya, akibat peluru nyasar. Sang putri meninggal dua minggu sebelum pernikahannya.
Sekolah telah memulai kembali kelas, dan Rafiullah mencoba untuk bersukacita karena dipersatukan kembali dengan murid-muridnya, tetapi dia masih berduka karena kehilangan anaknya.
Sekolah telah memulai kembali kelas, dan Rafiullah mencoba untuk bersukacita karena dipersatukan kembali dengan murid-muridnya, tetapi dia masih berduka karena kehilangan anaknya.
Gerbang biru sekolah itu penuh dengan puluhan lubang peluru, jendela-jendelanya pecah, dan dindingnya penuh bekas tembakan artileri.
Gerbang biru sekolah itu penuh dengan puluhan lubang peluru, jendela-jendelanya pecah, dan dindingnya penuh bekas tembakan artileri.
Antara musim semi 2020 dan perebutan desa, 40 warga sipil tewas. Untuk menghindari lebih banyak kematian, penduduk desa mengumpulkan persenjataan yang belum meledak dan menyembunyikannya di tempat kosong. “Kami melakukannya untuk melindungi anak-anak,” kata tetua desa Abdul Bari Arzoi.
Antara musim semi 2020 dan perebutan desa, 40 warga sipil tewas. Untuk menghindari lebih banyak kematian, penduduk desa mengumpulkan persenjataan yang belum meledak dan menyembunyikannya di tempat kosong. “Kami melakukannya untuk melindungi anak-anak,” kata tetua desa Abdul Bari Arzoi.
Pada Agustus Afghanistan jatuh ke tangan Taliban dan krisis ekonomi terjadi dengan komunitas internasional yang sebagian besar membekukan dana untuk negara yang bergantung pada bantuan itu.
Pada Agustus Afghanistan jatuh ke tangan Taliban dan krisis ekonomi terjadi dengan komunitas internasional yang sebagian besar membekukan dana untuk negara yang bergantung pada bantuan itu.
Di atas kesulitan itu, kekeringan yang melanda telah memicu peringatan akan kekurangan pangan yang serius dan bencana kemanusiaan.
Di atas kesulitan itu, kekeringan yang melanda telah memicu peringatan akan kekurangan pangan yang serius dan bencana kemanusiaan.

Perjuangan Warga Korban Perang Afghanistan untuk Kembali Membangun Rumah

Internasional nato Taliban afghanistan taliban afghanistan
04 Desember 2021 14:26
Jakarta: Daerah pedesaan seperti Arzo, pinggiran Kota Ghazni menanggung beban konflik dua dekade di mana gerilyawan Taliban menghadapi pasukan AS, NATO, dan Afghanistan, dengan korban sipil yang ditimbulkan oleh kedua sisi.

Keluarga perlahan kembali ke reruntuhan Arzo untuk mencoba memulai hidup baru dan membangun kembali rumah mereka.

Salah satu warga, Lailuma, 55, kehilangan putrinya dalam baku tembak antara pasukan Afghanistan dan pemberontak. Suaminya selamat dari peluru di kepala, tetapi tidak bisa lagi bekerja. Pertama kali rumahnya runtuh dalam pertempuran, dia membangunnya kembali. Namun kali ini, dia tidak punya uang lagi.

Rafiullah, 65, seorang guru di sekolah putri setempat, kehilangan putrinya, akibat peluru nyasar. Sang putri meninggal dua minggu sebelum pernikahannya.

Sekolah telah memulai kembali kelas, dan Rafiullah mencoba untuk bersukacita karena dipersatukan kembali dengan murid-muridnya, tetapi dia masih berduka karena kehilangan anaknya.

Gerbang biru sekolah itu penuh dengan puluhan lubang peluru, jendela-jendelanya pecah, dan dindingnya penuh bekas tembakan artileri.

Antara musim semi 2020 dan perebutan desa, 40 warga sipil tewas. Untuk menghindari lebih banyak kematian, penduduk desa mengumpulkan persenjataan yang belum meledak dan menyembunyikannya di tempat kosong. “Kami melakukannya untuk melindungi anak-anak,” kata tetua desa Abdul Bari Arzoi.

Pada Agustus Afghanistan jatuh ke tangan Taliban dan krisis ekonomi terjadi dengan komunitas internasional yang sebagian besar membekukan dana untuk negara yang bergantung pada bantuan itu.

Di atas kesulitan itu, kekeringan yang melanda telah memicu peringatan akan kekurangan pangan yang serius dan bencana kemanusiaan. AFP PHOTO/Hector Retamal

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif