Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu petarung terbaik di arena Mixed Martial Arts (MMA), Suwardi atau yang akrab disapa 'Becak Lawu' memutuskan mengakhiri karier profesionalnya.
Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu petarung terbaik di arena Mixed Martial Arts (MMA), Suwardi atau yang akrab disapa 'Becak Lawu' memutuskan mengakhiri karier profesionalnya.
Mantan juara kelas terbang (flyweight) One Pride MMA itu kini membuka lembaran baru dengan terlibat dalam produksi film aksi yang mengangkat unsur seni bela diri Indonesia.
Mantan juara kelas terbang (flyweight) One Pride MMA itu kini membuka lembaran baru dengan terlibat dalam produksi film aksi yang mengangkat unsur seni bela diri Indonesia.

​Dari Sangkar MMA ke Dunia Film, Suwardi Bawa Semangat Pencak Silat

13 Juli 2026 10:51
Jakarta: Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu petarung terbaik di arena Mixed Martial Arts (MMA), Suwardi atau yang akrab disapa 'Becak Lawu' memutuskan mengakhiri karier profesionalnya. Mantan juara kelas terbang (flyweight) One Pride MMA itu kini membuka lembaran baru dengan terlibat dalam produksi film aksi yang mengangkat unsur seni bela diri Indonesia.

"Selama ini saya bertarung di sangkar besi untuk diri saya sendiri. Sekarang saya ingin bertarung untuk sesuatu yang lebih besar — mengangkat Pencak Silat, khususnya PSHT, supaya dikenal bukan hanya sebagai warisan budaya, tapi sebagai seni bela diri yang benar-benar efektif dan bisa berdiri sejajar dengan disiplin tarung dunia," kata Suwardi dalam keterangan pers dikutip, Senin, 13 Juli 2026.

Sepanjang kariernya, Suwardi dikenal sebagai spesialis submission, terutama teknik leg lock yang menjadi ciri khasnya. Kemampuannya lahir dari perpaduan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Brazilian Jiu-Jitsu, dan Muaythai, yang membawanya meraih dua sabuk abadi One Pride MMA.

Kini, pengalaman tersebut dibawanya ke dunia perfilman. Bersama rumah produksi IDM Film, Suwardi tidak hanya tampil sebagai pemeran, tetapi juga terlibat dalam penyutradaraan adegan laga.

"Saya belajar Jiu-Jitsu, saya belajar Muaythai, tapi fondasi saya tetap silat. Dari situ saya kembangkan gaya bertarung yang menggabungkan semuanya — silat sebagai jiwa, MMA sebagai wadahnya. Ini yang ingin saya perkenalkan ke Indonesia. Teknik ini lahir dari tanah kita sendiri," jelasnya.

Bagi Suwardi, keputusannya meninggalkan arena pertandingan bukan berarti mengakhiri perjuangan di dunia bela diri. Ia menilai dunia perfilman dapat menjadi ruang baru untuk memperkenalkan nilai dan teknik bela diri Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

"Buat saya, ini bukan pensiun. Ini pindah medan. Yang saya perjuangkan tetap sama: seni bela diri Indonesia. Dulu lewat pertandingan, sekarang lewat layar lebar supaya bisa sampai ke lebih banyak orang, terutama anak-anak muda," katanya.

Film yang tengah digarap mengangkat kisah tentang keberanian, tanggung jawab, dan pengorbanan. Suwardi mengaku ikut merancang sejumlah adegan laga dengan teknik yang selama ini digunakannya saat bertanding.

"Filmnya soal keberanian dan tanggung jawab — tentang tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Saya bermain sebagai orang yang harus memilih antara rasa takut dan kewajiban. Banyak adegan tarung di dalamnya saya rancang sendiri, dan semuanya pakai teknik yang selama ini saya latih. Saya ingin penonton merasakan bahwa aksi di film ini nyata, bukan sekadar koreografi," tuturnya.

Film berjudul Leave No One Behind (LNOB) dijadwalkan tayang di jaringan bioskop Cinema XXI mulai 23 Juli 2026. Melalui karya tersebut, Suwardi berharap pengalaman bertarung yang selama ini ia bangun di arena MMA dapat menjadi inspirasi sekaligus memperkenalkan kekayaan seni bela diri Indonesia kepada khalayak yang lebih luas. Dok. Istimewa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

Hiburan Pencak Silat Film Indonesia