MUS Mulyadi, 30, ialah seorang penyintas covid19 dengan gejala ringan yang menetap di Kota Bogor, Jawa Barat. Diawali dengan hilangnya kemampuan indera pengecap dan penciuman, nyeri di seluruh badan, mual, muntah, dan sedikit sesak napas.
Setelah melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah selama 14 hari, ia dinyatakan negatif covid-19. Beberapa hari setelah itu, ia melakukan swab PCR ulang untuk syarat masuk kantor. Mus pun kaget ketika ia dinyatakan positif covid-19 lagi.
“Mental saya langsung down. Kok, bisa saya terinfeksi ulang (reinfeksi)?” ujar Mus, dalam kisahnya di acara webinar, belum lama ini.
Ia menduga, penyebabnya ialah kealpaannya untuk membersihkan semua barang di rumah yang pernah disentuhnya saat isoman di rumah. “Makanya saya disarankan untuk isoman ke kawasan Lido,” imbuh pria yang gemar berolahraga ini.
Bidan Safriani bersama dua anaknya juga menjadi penyintas covid-19. Mereka melakukan isoman di rumah, bersama dengan suami Safriani yang negatif covid-19.
“Kami terpisah ruangan. Saya tetap masak, tetapi masker dan cuci tangan tidak pernah lepas kami lakukan. Setelah 14 hari, saya dan anakanak negatif,” ucapnya.
Namun sayangnya, tidak semua pasien covid-19 memiliki kedisiplinan yang sama seperti Safriani. Menurut Epidemiolog Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ridwan Amiruddin, kesalahan isolasi mandiri ini menjadi penyebab
munculnya klaster keluarga dan transmisi di komunitas.
“Ada beberapa kebocoran memang di isolasi mandiri sehingga terbentuk klaster keluarga, transmisi di komunitas, pergerakan populasi di tempat-tempat umum sebenarnya menjadi pemicu kasus naik,” kata Ketua Umum Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) itu dalam webinar yang digelar Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Jumat, 5 Februari 2021.
Prinsipnya, isolasi mandiri dilakukan dengan memisahkan si sakit agar dia tidak menjadi sumber penularan. Namun, pada kenyataannya, ujar Ridwan, pasien keliru menerapkannya. Misalnya, pasien tetap berinteraksi sosial secara langsung dengan anggota keluarga lain.
“Semakin tinggi tingkat pertemuan seperti makan bersama maka tingkat penularan makin tinggi. Apabila mobilitas penduduk naik satu persen maka kasus covid-19 bisa naik 8%-15%,” tutur Ridwan.
Harus terpusat
Selain pasien tidak disiplin, kata Ridwan, kurangnya pengawasan dari petugas puskesmas atau layanan medis menyebabkan kebocoran dalam pelaksanaan isolasi mandiri.
“Karena itu beberapa provinsi mendorong supaya isolasi mandiri dapat dikontrol oleh RT, RW atau dilaksanakan secara terpusat,” kata Ridwan.
Di awal pandemi, cara ini yang dilakukan Pemerintah Kota Wuhan di Tiongkok, untuk melokalisasi penyebaran virus. Mereka menggunakan gedung-gedung berkapasitas besar untuk mengisolasi warganya yang terinfeksi, dan membangun beberapa rumah sakit darurat berkapasitas ribuan orang.
Dalam pernyataanya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sepakat, pemantauan OTG atau orang bergejala harus secara ketat dilakukan agar tidak terjadi penularan lebih luas di masyarakat.
Namun, kondisi rumah sakit yang sangat terbatas tidak akan mampu menangani itu. Karena itu, ia mencoba mengerahkan puskesmas untuk bisa menampung pasien yang membutuhkan isoman. Dok MI Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News