SEJALAN dengan pelaksanaan vaksinasi nasional, pemerintah akan terus memaksimalkan upaya 3T, yakni testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan), dan treatment (perawatan) untuk pencegahan dan pengobatan pasien covid-19. Pemenuh an mencukupi logistik dan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung gerakan 3T tersebut akan ditambah.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, menyebut bahwa Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan 724 ribu kit stock siap kirim, dan terdapat 1 juta kit yang merupakan donasi dari World Health Organization (WHO). “Hal ini ditujukan untuk mengoptimalkan upaya testing covid-19,” kata Prof Wiku, Rabu, 24 Februari 2021.
Untuk memenuhi kebutuhan tracing, optimalisasi dilakukan dengan menyiapkan SDM sebanyak 10.166 orang petugas surveilans puskesmas, dan 5.877 orang petugas tracer. Ke depannya jumlah ini akan terus ditambah. Pemerintah, ujarnya, juga telah membuat indikator kinerja petugas tracer agar proses penelusuran berjalan optimal.
Prof Wiku juga menekankan bahwa kedua sumber daya itu akan didistribusikan sesuai kebutuhan daerah masingmasing. Hal ini bertujuan agar dapat mencapai testing, dengan target dan penelusurannya yang lebih luas.
Sebelumnya, pemerintah telah resmi memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro tingkat desa dan kelurahan dari 23 Februari hingga 8 Maret 2021. PPKM Mikro tahap 2 ini diharapkan dapat mengoptimalkan penanganan covid-19 di tingkatan terkecil dan mengendalikan laju penularan di tengah masyarakat.
Perlunya untuk meningkatkan gerakan 3T juga dikemukakan epidemiolog dari FK Universitas Jenderal Soedirman Yudhi Wibowo. “Peningkatan kapasitas 3T, terutama di level mikro harus terus diintensifkan guna menekan risiko penularan dan penyebaran covid-19,” katanya di Purwokerto.
Waspada
Upaya menegah penyebaran covid-19 juga dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat di pos-pos perjalanan seperti bandara.
Adanya isu yang sempat viral banyaknya pendatang dari luar negeri melalui bandara terpapar covid-19 (setelah dites di bandara) meski telah membawa hasil tes PCR negatif dari asal negaranya, tak dimungkirinya.
Terkait hal tersebut, Prof Wiku menjelaskan hal itu memang terjadi karena berbagai faktor seperti sampel swab PCR yang diambil terlalu awal pada masa inkubasi sehingga virus belum terdeteksi.
Penyebab lain terdapat kemungkinan terjadinya penularan antara masa tes di negara asal sebelum berangkat, yaitu 3 x 24 jam selama perjalanan atau karantina. Hal yang penting untuk diingat bahwa median masa inkubasi covid-19 ialah 5 sampai 6 hari.
Makanya upaya tracing akan terus ditingkatkan di pintu masuk lalu lintas mobilitas masyarakat di bandara internasional atau tempat lainnya.
Satgas Penanganan Covid-19 juga mengimbau para petugas di lapangan dapat memberikan penjelasan yang baik kepada WNI dan WNA yang masuk Indonesia agar mereka mengerti persyaratan apa saja yang harus dipenuhi untuk dapat masuk Indonesia. Dok Media Indonesia Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News