Plasma Konvalesen, Penolong di Saat Genting

Plasma Konvalesen, Penolong di Saat Genting

Grafis Virus Korona
13 Januari 2021 16:24
SUDAH empat kali Jaen Jumantoro, 53, mendonorkan plasma darah sejak kesembuhannya dari covid-19 pada 19 Juli 2020 lalu. Ia pun tak menyangka, sekantong darahnya itu dianggap sebagai harta yang sangat bernilai di masa pandemi ini.

Sebelum pandemi, Jaen yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat, memang rutin mendonorkan darahnya. Selepas dinyatakan negatif covid-19 pada 5 Agustus 2020, Jaen secara sukarela menghubungi Palang Merah Indonesia (PMI) pusat di Jakarta.

“Saya sudah terbiasa donor darah. Sudah 27 kali. Tanggal 23 September 2020 setelah sembuh, saya telepon ke PMI bisa enggak donor setelah covid? Di situ saya ditawarkan untuk donor plasma saja karena bermanfaat buat yang sakit,” ucap Jaen kepada Media Indonesia, Selasa, 12 Januari 2021.

Pascapengambilan darah, Jaen merasa tidak ada yang berubah dengan kondisi fisiknya. Ia yang  memang tidak memiliki penyakit komorbid masih bisa bersepeda puluhan kilometer dan beraktivitas fi sik lainnya.

Setelah 3 minggu sejak donor pertama itu, PMI kembali meminta Jaen mendonorkan plasmanya. “Saya donor kedua tanggal 12 Oktober 2020, 04 November 2020, dan 11 Desember 2020,” ucap pemilik golongan darah B itu.

Di tengah situasi sulit ini, Jaen mengaku sukarela membantu sesama. Itu menjadi motivasinya dalam mendonorkan plasma hingga 4 kali. “Yang ringan gejalanya saja sudah cukup khawatir keadaannya. Belom masalah psikis dengan tetangga dengan keluarga. Jadi saya cuma mau membantu,” pungkasnya.

Plasma dari darah penyintas covid-19 kaya akan antibodi protein yang dikeluarkan sel imun limfosit B (sel B), yang menargetkan patogen seperti SARS-CoV-2 penyebab covid19 untuk dihancurkan.

Untuk dapat mendonorkan darahnya, seseorang harus dinyatakan benar-benar sembuh dari covid-19 setidaknya setelah tiga minggu.  Plasma diproses dengan alat khusus untuk dipisahkan dari sel darah merah, sel darah putih, dan komponen lainnya. 

Nantinya, plasma yang berwarna kuning itu akan disuntikan di tubuh pasien covid-19 yang masih menjalani perawatan, dengan harapan antibodi dapat menangkal virus menginfeksi anggota tubuh lainnya. Hal ini mengingat covid-19 menempel di setiap organ penting, salah satunya di pembuluh darah kapiler yang bisa membuat sesak, pembekuan darah, bahkan terjadi badai sitokin.

Badai sitokin merupakan reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh. Ketika SARS-CoV-2 memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Paru-paru pun bisa mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. 

“Dengan pemberian plasma, teorinya akan menurunkan gejala dan infeksi badai sitokin tadi,” kata dr Siti Rosidah dari Tim Covid-19 RSUD Koja, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu, 10 Januari 2021.

Kasus berat

Prof Ari Fahrial Syam, guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengatakan terapi plasma konvalesen diberikan kepada pasien jika pasien dalam keadaan yang genting. “Diprioritaskan utuk kasus moderate dan severe,” katanya.

Youtuber Agung Webe yang juga penyintas covid-19 menjadi saksi betapa mujarabnya plasma kovalesen ini. Ia yang mengalami diare, lemas, dan sesak nafas dirawat di ruang isolasi. Namun, ia bersyukur dengan kondisinya masih lebih baik daripada teman seruangannya yang mengalami komplikasi berat.

“Teman saya ini sangat lemas. Ia dijadwalkan untuk transfusi plasma. Habis 3 kantong plasma. Setelah transfusi itu, teman saya ini perbaikannya cepat sekali, dari yang tadinya pakai kursi roda sudah bisa jalan ke toilet. Dalam hitungan 1,5 hari saja,” tuturnya dalam videonya.

Dari kesaksiannya ini, ia pun berharap, ada banyak plasma darah konvalesen yang didonorkan para penyintas covid-19. Dok.MI
(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif