Lupus di Bawah Bayangan Covid-19

Lupus di Bawah Bayangan Covid-19

Grafis lupus
12 Mei 2021 19:52
MENJADI pasien ICU khusus covid-19 selama 10 hari lamanya meninggalkan trauma pada Desi, seorang penyintas lupus. Semua berawal dari demam tinggi di atas 40 derajat yang dialaminya dengan diiringi sedikit batuk.

Suatu hari, menjelang sore, Desi merasakan nyeri teramat sangat pada sendi lututnya yang tidak pernah dialami sebelumnya hingga membuatnya menjerit-jerit.

Sepuluh hari kemudian, Desi merasa nyeri di dada yang membuatnya susah menarik napas. Oleh dokter, ia disarankan ke UGD karena saturasi sudah turun ke angka 92 dan akhirnya ia masuk ruang ICU.

“Gejalanya benar-benar seperti kita flare SLE (perburukan gejala pada penyakit lupus eritematosus sistemik). Namun, 5x lipat skala nya,” tuturnya dalam webinar Autoimun Penyintas Covid-19 dalam kanal Youtube Sahabat Cempluk, sebuah komunitas penyandang lupus, pada April lalu.

Sistem kekebalan tubuh penderita lupus dan orang dengan autoimun lainnya tidak bisa membedakan mana zat asing dan mana sel tubuh sendiri hingga membuatnya merusak sel dan jaringan tubuh sendiri. Hingga akhirnya, itu menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh, seperti kulit, sendi, ginjal, paru, hingga otak.

Karena kondisi rentan itulah, spesialis penyakit dalam reumatologi dr Rakhma Yanti Helmi SpPD, K-R, FINASIM mengatakan risiko penyintas lupus untuk terpapar covid-19 cukup tinggi. Penanganannya sangat bergantung pada derajat keparahan.

“Kalau terkena covid-19 itu tergantung pada berat atau ringan. Kembali akan kita lakukan asesmen bersama dokter yang menangani covid-19. Bisa ada perubahan obat-obatan seperti untuk imunomodulator,” ungkapnya, kemarin, dalam Seminar Kesehatan daring RS Dr Kariadi, Semarang, memperingati Hari Lupus Sedunia setiap 10 Mei.

Dokter Wistiabi SpA(K), MSi Med mengatakan penyebab lupus tidak diketahui sampai saat ini dan bukanlah penyakit menular dan keturunan meskipun diduga ada faktor genetik.

Vaksinasi
Sebagian besar pengidap lupus ialah perempuan di usia 15-45 tahun. Sebagai upaya pencegahan, dokter Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR menyampaikan penyandang autoimun seperti lupus sudah dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi covid-19.

Hal itu seperti yang direkomendasikan oleh The European League Against Rheumatism (EULAR), American College of Rheuma tology (ACR) dan Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi).

“Pada Maret 2021, Papdi menyatakan autoimun layak dapat vaksinasi jika penyakitnya stabil sesuai dokter yang merawat,” ujar Sandra.

Menurutnya, vaksinasi bagi autoimun penting untuk mengurangi angka ke UGD, mengurangi rawat inap karena infeksi dan mengurangi infeksi berat. Asalkan penyakit stabil (remisi) tidak putus obat dan penyakit terkendali baik.

“Secara teoritis, ada risiko flare (kumat) saat vaksinasi. Namun, manfaatnya dinilai jauh lebih besar dari risikonya,” kata Sandra.

Selain vaksin covid-19, vaksinasi lain yang dianjurkan untuk pasien dan penyintas lupus ialah vaksin pneumokokus, infl uenza, Td/Tdap, dan HPV.

“Vaksin pneumokokus penting di masa pandemi karena risiko infeksi paru meningkat pada orang dengan reumatoid arthritis (RA). Sebanyak 37% orang dengan RA di Amerika dirawat karena infeksi pneumokokus. Di Belanda, SLE 13 kali lebih tinggi terkena infeksi pneumokokus jika dibanding dengan populasi normal,” urainya. dok Media Indonesia
(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif