Lebih Kencang Mengawal Kebijakan

Lebih Kencang Mengawal Kebijakan

05 Februari 2021 08:46
TRACING, testing, dan treatment masih jadi sorotan. Kegiatan tersebut sudah dilakukan di awal pandemi dan masih harus ditingkatkan lagi untuk penanggulangan covid19 ke depan.

“Dari sekian kasus penyebaran covid-19, sebagian besar penularan tidak dapat terdeteksi asal usulnya. Karena itu, kebijakan 3T, khususnya testing dan tracing perlu ditingkatkan,” ungkap Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Hariadi Wibisono, seusai bertemu Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

Kamis, 4 Februari 2021, Luhut mengundang para epidemiolog untuk mendapat masukan soal pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Dalam rapat itu, Hariadi menambahkan bahwa testing atau pemeriksaan covid-19 seharusnya bisa terjangkau oleh masyarakat, dari segi biaya dan jarak. “Pemerintah daerah bertanggung jawab memperkuat testing.” 

Seusai pertemuan, Luhut menyatakan ada empat strategi utama yang ditekankan pemerintah dalam menekan penularan covid-19. Di antaranya ialah peningkatan perubahan perilaku masyarakat. “Caranya dengan menggelar operasi dan kampanye protokol kesehatan secara sistematis.” 

Ia juga menegaskan strategi pemeriksaan dan pelacakan akan dilakukan lebih agresif dan tepat sasaran. Strategi berikutnya ialah pembangunan fasilitas isolasi terpusat.

“Manajemen perawatan covid-19 akan ditingkatkan untuk memastikan adanya ketersediaan tempat tidur rumah sakit, penyediaan semua obat dan alat yang dibutuhkan. Yang terakhir, ialah vaksinasi, yang dimulai dari tenaga kesehatan, pelayanan publik, kelompok rentan, dan daerah prioritas,” tandasnya.

Namun, ia juga menegaskan masyarakat punya peran penting. “Masyarakat harus melakukan penurunan mobilitas hingga di atas 30%. Itu akan mengendalikan penambahan kasus,” tandas Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu.

Jateng di Rumah Saja

Gerakan Jateng di Rumah Saja yang digaungkan Gubernur Ganjar Pranowo mendapat banyak dukungan, meski tak kurang juga yang keberatan. Kemarin, Ganjar kembali menyatakan bahwa gerakan itu menjadi momen bagi warga untuk mengheningkan cipta
bagi korban covid-19. 

“Itu wujud empati kita pada tenaga medis, tukang gali kubur, tokoh masyarakat, dan warga yang jadi korban pandemi. Gerakan ini ajakan, sehingga tidak perlu ada sanksi,” tuturnya.

Ganjar mengaku tidak ingin menghukum rakyat. “Soal  regulasi kan sudah ada. Konteks dari gerakan ini adalah membangun perilaku dan kesadaran.”

Sebagian besar kepala daerah, bupati, dan wali kota di Jawa Tengah, mendukung ajakan Ganjar. Di antara mereka ialah Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Bupati Blora Djoko Nugroho, Bupati Temanggung M Al Khadziq, Bupati Jepara Dian Kristiandi, dan Bupati Batang Wihaji. Namun, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono mengkritik. “Kebijakan itu terburu-buru, seharusnya dihitung dulu berapa banyak warga yang terdampak,” tegasnya.

Penolakan juga datang dari Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia Jawa Tengah Suwanto. “Kami menolak karena ada 350 ribu pedagang yang bergantung hidup pada kegiatan di pasar.”

Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo punya jalan tengah. “Pemkot mengizinkan pasar tradisional dan mal buka. Dok.MI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(WWD)

Grafis Virus Korona