Torium, Energi Alternatif untuk Pembangkit Listrik

Torium, Energi Alternatif untuk Pembangkit Listrik

Grafis listrik
23 Januari 2021 07:31
MAHASISWA Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Tim Inventhor berinovasi memanfaatkan penggunaan torium sebagai bahan bakar alternatif yang merupakan sumber energi terbarukan untuk pembangkit tenaga listrik.

Umumnya, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) umumnya menggunakan uranium untuk bahan bakar. Namun, hal tersebut tidak dapat dilakukan di Indonesia karena keterbatasan cadangan uranium.

Ketua Tim Inventhor Michael Adrian Subagio mengungkapkan, gagasan yang dilontarkan tersebut berawal dari keprihatinan atas krisis energi bersih terbarukan (nol karbon) dan perubahan iklim dunia. Michael dan kedua rekannya berfokus pada pemanfaatan sumber energi yang bersih, terbarukan, serta lebih aman untuk bahan bakar PLTN dibandingkan dengan energi dari batubara, gas alam, dan biomassa.

Dari hasil analisis, Michael dan tim mendapati bahwa torium dapat digunakan untuk menggantikan uranium. “Efi siensi konversinya menjadi energi listrik sendiri dapat mencapai 50%, jika dibandingkan dengan uranium yang hanya 30%,” jelasnya dalam keterangan resmi, pekan lalu.

Nilai tersebut, lanjut Michael, merupakan yang terbesar daripada pembangkit listrik lainnya, sehingga menghasilkan limbah padat radioaktif yang lebih sedikit. Untuk diketahui, reaktor PLTN memanfaatkan reaksi fisi dari senyawa radioaktif yang menghasilkan steam sebagai penggerak turbin untuk produksi listrik.

“Dalam hal ini, torium lebih aman karena reaksi fisinya tidak membentuk senyawa yang berpotensi disalahgunakan untuk bom nuklir,” ungkapnya.

Penggunaan torium, menurut Michael, juga berkenaan dengan melimpahnya cadangan torium di Indonesia. Hasil eksplorasi yang dilakukan Pusat Sumber Daya Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan adanya cadangan monasit (mineral yang mengandung torium) terbesar di daerah Kepulauan Bangka Belitung. 

“Kadar torium-nya sangat besar, berkisar antara 62,9 – 85,7 ppm per gram,” bebernya. Dok.MI
(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif