Long Covid Normalnya Berlangsung 3 Minggu

Long Covid Normalnya Berlangsung 3 Minggu

03 Februari 2021 11:17
SEBAGAI penyintas covid-19, ada dua hal yang masih dikhawatirkan Ridwan, 35, yaitu reinfeksi (infeksi berulang) dan long covid. Ia yang dirawat hingga 1 bulan karena infeksi virus SARS-Cov-2 itu merasakan bahwa tubuhnya tidak kembali seperti sediakala.

"Saya cepat kelelahan jika beraktivitas ringan. Nyeri otot-otot dan kulit seperti kesetrum listrik. Kadang-kadang mengalami brain fog (kabut otak) dan perut masih terasa mules," tuturnya.

Bingung ke mana hendak bertanya, Ridwan memilih curhat di dalam grup di media sosial berisikan ratusan penyintas covid-19 yang juga mengalami keluhan sama. Dengan berdiskusi bersama mereka, Ridwan mengaku lega karena merasa memiliki teman senasib.

Long covid adalah sebuah kondisi ketika pasien positif terinfeksi korona dan sudah pulih masih mengeluhkan gejala covid-19 yang berkepanjangan. Long covid menjadi isu di bawah tanah yang mencuat karena masih minimnya informasi.

Fenomena long covid dituliskan dalam buku berjudul Goresan di Tengah Kesibukan: Berbagai Catatan Seputar Pandemi Global Covid-19 di Indonesia milik dokter spesialis penyakit dalam dari FKUI, Prof Ari Fahrial Syam.

Menurutnya, rata-rata long covid terjadi 3 minggu. Bila gangguan terus berlanjut sampai lebih dari 12 minggu, fenomena itu dapat disebut sebagai covid kronis.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet disebutkan ada lebih dari tiga perempat pasien
covid-19 yang dirawat di rumah sakit membawa setidaknya satu gejala lanjutan seusai terinfeksi.

"Analisis kami menunjukkan sebagian besar pasien terus hidup dengan setidaknya beberapa efek virus setelah meninggalkan rumah sakit, dan menyoroti kebutuhan perawatan pascakeluar dari rumah sakit, terutama bagi
mereka yang mengalami infeksi parah," kata Bin Cao dari National Center for Respiratory Medicine, China-Japan
Friendship Hospital di Tiongkok, seperti dilansir Indian Express.

Penelitian tersebut mengamati efek jangka panjang infeksi virus korona pada 1.733 pasien yang pertama kali didiagnosis di Wuhan, Tiongkok, pada Januari-Mei 2020 dan diikuti hingga Juni-September 2020.

Menurut studi tersebut, pasien rawat inap yang sakit parah lebih sering mengalami gangguan fungsi paru-paru dan kelainan terdeteksi dalam pencitraan dada --yang menurut para ilmuwan dapat mengindikasikan kerusakan organ enam bulan setelah timbulnya gejala.

Recovery 

Janet Diaz, ketua perawatan klinis dalam program kedaruratan Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengakui saat
ini penanganan long covid, long hauler covid, atau disebut juga sindrom covid pascaakut, belum jelas meski sudah
menjadi fenomena di mana-mana.

"Terkait misteri long covid ini, WHO akan menggelar seminar global pertama yang membahas kondisi ini pada
9 Februari," katanya.

Dokter yang juga penyintas covid-19 Twindy Rarasati mengatakan long covid bisa terjadi lantaran virus korona ini menyerang saluran pernapasan seperti paru-paru dan merusaknya sehingga gejala covid-19 masih dirasakan.

"Ini bisa kembali ke awal, tapi butuh recovery beberapa waktu. Mungkin bentuknya tidak sempurna, tapi fungsi
parunya masih bisa menyokong pasien," jelas dr Twindy dalam diskusi yang disiarkan langsung di Instagram Bazaar Indonesia, Kamis, 21 Januari. Dok.MI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(WWD)

Grafis Virus Korona