Memeluk Pohon Bantu Atasi NDD

Memeluk Pohon Bantu Atasi NDD

27 Maret 2021 09:46
POLA kehidupan masyarakat modern yang cenderung indoor seperti sudah menjadi kewajaran. Sebut saja, beraktivitas di dalam ruangan tertutup, seperti di kamar, apartemen, kantor, mal, dan gym ialah buatan manusia.

Tanpa disadari, hal itu bisa berpengaruh pada aspek psikis dan fisik karena bertentangan dengan hakikat hubungan manusia dengan alam. “Alam dipindahkan ke digital. Kita menonton screen saver, melihat, dan meraba pohon atau tanaman atau bunga palsu. Matahari diganti dengan sinar lampu dan sebagainya,” ujar psikolog dari Universitas Indonesia Ratih Ibrahim.

Hal tersebut diyakini bisa mengarah pada nature deficit disorder/NDD, sebuah istilah yang diangkat oleh Richard Louv dalam bukunya Last Child In The Wood, 2005.

Dengan mengutip Louv, dijelaskan Ratih, kondisi tersebut berkonsekuensi serius meski kerap tidak disadari bahkan diabaikan oleh setiap individu.

“Orang menjadi tidak kenal dengan alam itu apa dan bagaimana. Hal ini dalam jangka panjang berdampak terhadap perkembangan fisik, koginitif mental, dan psikososial. Apalagi jika terjadi sejak usia anak-anak,” ujarnya.

Kondisi nature deficit disorder dapat memengaruhi perkembangan fi sik, seperti otot, tulang, stamina, dan vitalitas. “Kita menjadi lebih lembek. Kualitas pertumbuhan tulang dan otot menjadi kurang optimal,” ungkap Ratih.

Selain itu, nature deficit disorder juga dapat memengaruhi kualitas pola pikir (kognitif), dan berbagai aspek kehidupan lainnya. “Apakah memeluk pohon bisa menjadi sarana terapi. Well, from the worst bisa saja. Seberapa efektifnya musti dikaji lagi,” ucapnya.

Selain berkontak langsung dengan alam seperti memeluk pohon, jelas Ratih, kita juga bisa mendorong orang untuk mulai menanam tumbuhan di rumah, serta menyediakan waktu untuk outbound secara teratur, minimal 2 jam dalam seminggu.

“Sambil ikut merawat kelestarian lingkungan, menghormati alam dengan tidak buang sampah sembarangan, tidak membuat limbah termasuk limbah plastik, tidak mencomot atau memindahkan batu, motek atau jebol tanaman, menyakiti binatang, dan lainlain, orang akan mendapatkan manfaat luar biasa dari alam yang sifatnya sangat therapeutic,” bebernya.

Bersatu dengan alam, kata Ratih, harus dilakukan, bukan hanya diucapkan. Hal tersebut kemudian akan memberikan dampak yang baik pada tubuh.

“Berbusana juga harus sepatutnya berada di alam sehingga busana kita tidak merusak atau mencemari lingkungan hidup yang kita kunjungi,” pungkas Ratih. Dok Media Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(WWD)

Grafis Lingkungan