Ilustrasi PLTU. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah.
Ilustrasi PLTU. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah.

Kementerian ESDM: Teknologi USC PLTU Masuk Peta Jalan Penurunan Emisi

Ekonomi listrik pembangkit listrik batu bara
Antara • 10 Januari 2021 20:09
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan penerapan teknologi ultra super-critical (USC) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masuk dalam peta jalan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi.
 
Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar menyampaikan PLTU USC yang kini sedang dibangun antara lain PLTU Jawa 9 & 10, PLTU Jawa Tengah (Batang), dan PLTU Jawa 4 (Tanjung Jati B), semuanya berstandar negara-negara maju dalam OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development).
 
"Bukan sebagai standar, tapi semacam road map (peta jalan) penggunaan PLTU di Indonesia," katanya, seperti dilansir Antara, Minggu, 10 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Wanhar pernah menjelaskan bahwa teknologi USC, termasuk clean coal technology (CCT), dapat menurunkan emisi GRK karena memiliki efisiensi sebesar 40 persen.
 
"Arti efisiensi 40 persen itu adalah kemampuan dari PLTU USC untuk mengonversi sebanyak 40 persen dari setiap energi yang terkandung di dalam batu bara yang digunakan oleh PLTU USC menjadi energi listrik (kWh)," kata dia.
 
PLTU USC juga sudah dilengkapi dengan peralatan pengendalian pencemaran udara, sehingga emisi yang dihasilkan dapat memenuhi Baku Mutu Emisi. "Beberapa negara telah menerapkan teknologi ini, salah satunya adalah Jepang," ujarnya.
 
Wanhar juga menyampaikan pembangunan PLTU Sistem Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) harus menggunakan boiler teknologi USC. Namun, tidak untuk PLTU di luar Sistem Jamali, mengingat kapasitasnya masih kelas 50 - 300 MW. Bagi PLTU yang belum memasang teknologi USC, masih boleh menggunakan teknologi satu tingkat di bawah USC, yaitu Super Critical.
 
"Atau PLTU Mulut Tambang untuk daerah yang memiliki tambang batu bara rendah kalori," katanya.
 
PLTU Mulut Tambang merupakan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan skema mine-to-mouth, dengan lokasi pembangkit yang terletak paralel terhadap lokasi tambang batu bara. Pembangkit listrik ini dapat dilengkapi unit pengering untuk meningkatkan nilai kalori dan mengurangi kandungan air.
 
Khusus di Indonesia, Wanhar menyebutkan bahwa PLTU USC yang sudah beroperasi adalah PLTU Cilacap Expansi 2 dan PLTU Jawa 7 yang menggunakan standar Tiongkok. Kementerian ESDM mencatat terdapat sembilan lokasi PLTU batu bara yang akan menggunakan teknologi USC, dengan total kapasitas sebesar 10.130 MW.
 
"Dengan dibangunnya PLTU USC dengan kapasitas total 10.130 MW tersebut, potensi emisi GRK yang mampu diturunkan mencapai 8,9 juta ton CO2," urai Wanhar.
 
Baca: Teknologi Maju Sokong Pengembangan PLTU Ramah Lingkungan
 
Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan teknologi USC akan baik apabila diterapkan dalam jangka panjang karena telah terbukti efisiensinya dalam mengurangi dampak lingkungan, utamanya polusi udara.
 
"Mudah-mudahan ini bisa diterapkan di semua PLTU karena ini terkait dengan komitmen kita. Pemerintah memang berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama yang dihasilkan oleh PLTU," katanya.
 
(UWA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif