Corporate Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale)  Ronald Atmadja dan Direktur Jenderal PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Vivien Ratnawati pada acara Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit
Corporate Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale) Ronald Atmadja dan Direktur Jenderal PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Vivien Ratnawati pada acara Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit

Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale, Dorong Kesadaran Masyarakat dalam Memilah Sampah

Ekonomi Le Minerale Indonesia Green Summit 2021 Media Group News
Gervin Nathaniel Purba • 31 Juli 2021 09:00
Jakarta : Media Group News (MGN) menyelenggarakan Event Indonesia Green Summit 2021 bersama KLHK dan Penggerak Green Waste Management & Economy. Acara digelar secara hybrid pada 26-27 Juli 2021, pukul 09.00-17.30 WIB dengan mengangkat tema 'Membela Kepentingan Nasional Menuju Net Zero Emission 2060’.
 
Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengolah sampah plastik untuk menjadi berkah diperlukan waktu yang tidak singkat. Perlu kolaborasi bersama dalam memberikan edukasi akan pentingnya mengurangi sampah plastik dan memilahnya agar bisa diolah kembali.
 
Atas dasar itu, Le Minerale bekerja sama dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) melakukan inisiasi proyek Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale. Gerakan ini merupakan komitmen multi-stakeholder dalam pengelolaan sampah plastik polyethylene terephthalate (PET).
 
Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale yang diluncurkan pada Februari 2021 ini, menargetkan peningkatan collection rate & recyling rate plastik sebesar 20 persen. Upaya yang dilakukan Le Minerale tersebut selaras dengan tekad pemerintah mewujudkan Indonesia bersih sampah pada 2025 dengan pengurangan 30 persen dan penanganan 70 persen pengurangan sampah.
 
Corporate Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale)  Ronald Atmadja mengatakan, gerakan ini hadir untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pemilahan sampah plastik. Ditargetkan dapat meningkatkan collection rate dan recycle rate. Sampah plastik PET yang sudah dikumpul kemudian didaur ulang.
 
Harapannya agar memperbanyak pasokan bahan baku dalam negeri ke industri daur ulang. "Setelah berjalan empat bulan, kami sudah mengumpulkan sekitar seribu ton (sampah plastik PET)," ujar Ronald, dalam Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit 2021, secara virtual, Senin, 26 Juli 2021.
 
Selain kolaborasi dengan ADUPI dan IPI, Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale juga telah menjalin kerja sama dengan 15 pihak setelah berjalan selama empat bulan. Mereka terdiri dari unsur pelapak, bank sampah, akademisi, asosiasi, dan social entrepreneur.
 
Dalam Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale bersama ADUPI memberikan edukasi kepada pelapak. Sementara dengan IPI bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan para pemulung dalam membantu memproses hasil hariannya.
 
Menurut Ronald, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah plastik, khususnya PET mulai terbangun setelah program Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale berjalan. Sebelumnya, masyarakat masih banyak yang belum peduli terhadap pemilahan sampah.
 
"Setelah program ini berjalan, mereka jadi tahu. Oh, ini harganya sekian. Oh, ini bisa jadi bahan baku. Hal ini menarik, karena masyrakat mau menerima konsep kita dan yang paling penting mereka mau mengubah perilaku demi kebaikan mereka," kata Ronald.
 
Melihat respons masyarakat, Ronald mengatakan pihaknya akan semakin gencar dalam memberikan edukasi melalui Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional Le Minerale. "Kami akan dorong pada semester kedua tahun ini," katanya.
 
Dari sisi pemenuhan bahan baku untuk industri daur ulang, pemerintah juga mendukung gerakan ini. Sebab,  pemerintah menargetkan Indonesia terbebas dari impor bahan baku yang berasal dari sampah terpilah atau daur ulang pada 2030.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Vivien Ratnawati menjelaskan alasan selama ini Indonesia masih mengimpor bahan baku tersebut, lantaran kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik di lingkup rumah tangga masih kecil.
 
"Karena dari rumah kita enggak memilah. Kalau enggak memilah, sampah itu kotor, campur makanan, campur sayur, dan sebagainya. Padahal kita butuh bahan baku bersih, kalau kita memilah dari rumah sampahnya, pengelolaan lanjutannya akan menjadi lebih baik, lebih mudah untuk menjadi bahan baku," kata Vivien.
 
KLHK mendukung tiga pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan sampah, yaitu zero waste,advance teknologi dan sirkular ekonomi.
 
“Sirkular ekonomi merupakan satu dari tiga solusi utama dalam pengelolaan sampah di Indonesia,” ucap Vivien.
 
Sementara itu Ketua Umum ADUPI Christine Halim mengatakan sampah PET sangat diminati oleh industri daur ulang di seluruh dunia. Tingginya peminat sampah PET lantaran recycle content menjadi tren saat ini.
 
"Di Amerika Serikat dan Eropa sudah mengharuskan  recycle content itu 25 persen masuk kepada produk. Jadi mau tidak mau kita harus memungut botol itu karena punya nilai ekonomis," ujar Christine.
 
Baginya, hal ini bisa menjadi berkah bagi masyarakat dalam meningkatkan ekonominya. Terlebih, plastik PET merupakan bahan yang mudah didaur ulang dibandingkan jenis plastik yang lain.
 
"Kami juga sudah melakukan banyak ekspor karena PET memang lebih bagus," ujarnya.
 
(ROS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif