Menteri Siti Nurbaya Siti dalam pertemuan G20 Enviroment Ministers' Meeting yang dilangsungkan secara virtual dari Naples, Italia, Kamis, 22 Juli 2021. Foto: KLHK
Menteri Siti Nurbaya Siti dalam pertemuan G20 Enviroment Ministers' Meeting yang dilangsungkan secara virtual dari Naples, Italia, Kamis, 22 Juli 2021. Foto: KLHK

Menteri LHK: Negara G20 Dapat Menjadi Katalis Pemulihan Lingkungan

Ekonomi Lingkungan Hidup KTT G20 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Green Summit 2021
Antara • 23 Juli 2021 14:14
Jakarta: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya Bakar menyebut negara yang tergabung ke dalam Kelompok 20 Negara (G20) dapat menjadi katalis global mempercepat pemulihan lingkungan. G20 juga dapat mendorong pembangunan berkelanjutan.
 
"Sebagai negara anggota G20, kita memiliki tanggung jawab menjadi katalis global untuk mengatasi tantangan lingkungan dan pemulihan berkelanjutan melalui contoh-contoh konkret," ujar Siti dilansir dari Antara, Jumat, 23 Juli 2021.
 
Ia mengatakan Indonesia tidak hanya ingin mengajak, tetapi juga mengimplementasikan ambisi yang sangat kuat dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Yakni, melalui aksi-aksi konkret yang sudah memperlihatkan hasil dalam perlindungan sumber daya alam nasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Data menunjukkan laju deforestasi Indonesia pernah mencapai 3,5 juta hektare per tahun, antara 1996 hingga 2000. Lalu, turun menjadi 0,44 juta hektare pada 2019. Dan semakin berkurang menjadi 0,115 juta hektare pada tahun 2020," kata Siti dalam paparannya pada G20 Enviroment Ministers' Meeting yang dilangsungkan secara virtual dari Naples, Italia, Kamis, 22 Juli 2021 malam.
 
Ia mengatakan Indonesia telah melakukan beberapa aksi konkret seperti melaksanakan program memperbaiki lahan terdegradasi dengan mempercepat upaya rehabilitasi, dengan tujuan Indonesia dapat mencapai Net Zero Land Degradation pada tahun 2030.
 
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga telah mengeluarkan peraturan untuk memanfaatkan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Saat ini, ujar dia, Indonesia tengah mengatur ekosistem karbon biru melalui peningkatan pengelolaan Indonesian Seas Large Marine Ecosystem (ISLME).
 
Baca: KLHK Pegang Komitmen 23 Produsen Mengurangi Sampah
 
Siti menjelaskan sebagai upaya dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan, Indonesia secara efektif telah melaksanakan Peta Jalan Nasional Ekonomi Sirkular pada tahun 2020 hingga 2024. Selain itu, sudah ada kebijakan dan strategi nasional untuk pengelolaan sampah di seluruh Indonesia periode 2017 hingga 2025.
 
"Semoga 100 persen sampah kita bisa dikelola dengan baik pada 2025, yaitu 30 persen dikurangi dan 70 persen dikelola secara sistematis," kata Siti.
 
Sedangkan dari sisi pembiayaan, ia mengatakan Indonesia telah mengembangkan peta jalan Keuangan Berkelanjutan 2025 dengan memperkenalkan instrumen keuangan inovatif untuk alam, ekonomi, dan masyarakat seperti Sukuk Hijau, SDG Bond, dan Sukuk SDG dalam tiga tahun terakhir. 
 
Selain itu, menurut Siti, ada pula keuangan campuran SDG Indonesia One yang digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berorientasi SDG dan pemulihan bencana di Indonesia.
 
"Ini adalah beberapa contoh tindakan yang telah Indonesia lakukan. Sekarang saatnya bagi semua untuk 'walk the talk'. Lebih banyak yang bisa dilakukan oleh dunia berkembang, jika dunia internasional juga memenuhi komitmennya, termasuk dalam hal membuka sumber keuangan dan transfer teknologi," katanya.
 
(UWA)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif