Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara. Medcom/Dian Ihsan Siregar.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara. Medcom/Dian Ihsan Siregar.

Perusahaan Teknologi Pendidikan Calon Unicorn Baru

Ekonomi startup ekonomi digital
20 Januari 2019 10:10
Jakarta: Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebutkan startup atau perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pendidikan akan menambah daftar perusahaan unicorn di Indonesia.
 
"Kalau saya melihatnya dari segi potensi, secara teoritis itu perusahaan edu-tech," kata Menteri Rudiantara usai menghadiri Peringatan 10 Tahun Young Leaders for Indonesia (YLI) di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu, 20 Januari 2019.
 
Di Indonesia, setidaknya saat ini sudah terdapat empat perusahaan unicorn. Unicorn adalah sebutan bagi start-up alias perusahaan rintisan yang bernilai di atas satu miliar dolar AS. Keempat perusahaan unicorn Indonesia saat ini adalah Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan bertambahnya satu perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pendidikan tersebut, target pemerintah terciptanya lima perusahaan unicorn Indonesia dapat tercapai 2019 ini.
 
Rudiantara menambahkan setidaknya ada 1-2 startup yang naik kelas menjadi Decacorn Indonesia, yakni perusahaan rintisan yang valuasi asetnya menyentuh USD10 miliar.
 
"Bulan depan ada satu menjadi decacorn. Pokoknya ada potensi menjadi decacorn. Bisa dua perusahaan ya tergantung, saya tidak bisa tentukan, itu masalah bisnis, tergantung investornya," katanya.
 
Ia menambahkan tidak akan mendorong perusahaan start-up decacorn untuk melantai ke bursa saham Indonesia. Hal itu karena menurut Rudiantara, nilai saham yang dibeli dari perusahaan decacorn masih terlalu besar di lingkup Indonesia.
 
Oleh karena itu, pemerintah mendorong perusahaan decacorn melakukan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa saham luar negeri.
 
"Decacorn itu kan 10 miliar dolar, sama dengan Rp140 triliun. Itu kalau dilepas ke publik 20 persen, sekitar Rp28 triliun siapa yang mau beli sahamnya," jelas Rudiantara.
 



 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi