Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Masih Ada Harapan Perang Dagang AS-Tiongkok Melunak

Ekonomi as-tiongkok Perang dagang
Nia Deviyana • 10 Juni 2019 14:23
Jakarta: Pemerintah masih optimistis perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bakal melunak. Utamanya, jika pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam mengalami penurunan pada triwulan II-2019.
 
"Kalau pertumbuhan ekonomi AS turun, saya termasuk yang yakin AS enggak akan ngotot lama-lama untuk melanjutkan perang dagang tensi tinggi seperti sekarang ini," tutur Deputi Bidang Koordinasi Makro dan Keuangan Iskandar Simorangkir Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Gedung Ali Wardhana, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin, 10 Juni 2019.
 
Adapun perang dagang, lanjut Iskandar, berimbas pada penurunan ekspor beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Di antara negara-negara berkembang yang pertumbuhan ekspornya masih bagus hanyalah Vietnam dan India.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Selebihnya, pertumbuhan ekspornya sudah negatif," terangnya.
 
Untuk mengatasi persoalan ini, kata Iskandar, Indonesia sudah memikirkan strategi agar perang dagang dua negara raksasa bisa menjadi peluang.
 
"Maka kita sudah melakukan langkah-langkah untuk mengekspor sejenis produk Tiongkok ke AS, kira-kira produk yang selama ini dijual Tiongkok ke AS. Produk-produk yang memiliki keunggulan komparatif akan kita dorong," paparnya.
 
Tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok semakin memanas. AS memutuskan menaikkan tarif tambahan untuk impor Tiongkok senilai USD200 miliar, dari 10 persen menjadi 25 persen pada 10 Mei 2019.
 
Sebagai balasannya, Tiongkok merespons dengan memberlakukan tarif pada produk-produk AS senilai USD60 miliar. Ketentuan tarif itu mulai berlaku sejak 1 Juni 2019.
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menyatakan keprihatinan terhadap perang dagang. Menurutnya, meskipun perang dagang bisa menciptakan peluang-peluang ekonomi, eskalasi persaingan antara AS-Tiongkok pada akhirnya tidak hanya menyangkut persoalan dagang, tetapi juga isu keamanan.
 
Sebagai contoh, Presiden AS Donald Trump memerintahkan untuk memblokir Huawei dan melarangnya membeli komponen dari perusahaan AS. Pemblokiran ini didasari dugaan bahwa Huawei dapat digunakan pemerintah Tiongkok sebagai bagian dari aktivitas mata-mata.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif