Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

Kadin Yakin Sawit Indonesia Bisa Diterima Eropa

Ekonomi minyak sawit
Eko Nordiansyah • 31 Juli 2019 12:59
Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini produk sawit Indonesia bisa diterima di Eropa. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini, produk sawit Indonesia menemui sejumlah tantangan untuk dipasarkan, khususnya di Uni Eropa.
 
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan larangan pemanfaatan minyak kelapa sawit dan turunannya sebagai bahan pembuatan biofuel menjadi batu sandungan. Padahal sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang dapat menjadi penyumbang devisa terbesar.
 
"Jika sekarang industri sawit kita menemui kesulitan dalam pemasarannya, tentu efek lanjutannya akan cukup besar, mulai dari hulu hingga hilir dan sektor-sektor penunjang yang menjual barang dan jasa dalam lingkup komoditas sawit," kata dia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu, 31 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu, dunia usaha bersama pemerintah diharapkan bisa berjuang secara konsisten melalui diplomasi sawit yang mempromosikan sustainable development. Terlebih Indonesia telah menerapkan tata kelola sawit berdasarkan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).
 
ISPO ditetapkan pada 2009 oleh pemerintah agar semua pihak di sektor kelapa sawit memenuhi standar pertanian yang telah ditetapkan. Sistem sertifikasi ISPO mengacu kepada standar internasional dan penilaian kesesuaian Komite Akreditasi Nasional (KAN).
 
Tak hanya dukungan dalam sertifikasi ISPO, pihaknya juga berharap agar Indonesia-EU Comprehensive Economic Agreement dapat segera terealisasi. Pasalnya dalam persaingan pasar sawit dunia, Indonesia mulai tergeser oleh Malaysia dan India yang memiliki Comprehensive Economic Cooperation Agreement India-EU.
 
Dalam kerja sama ini, tarif sawit India mendapatkan penurunan dari 54 persen menjadi 45 persen, sedang Indonesia tetap dikenakan tarif 54 persen, sehingga pasar sawit Indonesia direbut Malaysia.
 
Sebelumnya sawit Indonesia menghadapi kesulitan di pasar Uni Eropa karena Parlemen UE mengeluarkan Delegated Act Renewable Energy Directive (RED) II pada 2018, yang mengusulkan penghentian konsumsi biodiesel berbasis sawit dari Indonesia.
 
Pada April 2017, Parlemen Uni Eropa menerbitkan resolusi tentang Minyak Kelapa Sawit dan Deforestasi Hutan Hujan Tropis. Resolusi itu melarang pemanfaatan minyak kelapa sawit dan turunannya sebagai bahan pembuatan biofuel pada 2030.
 
"Isu ini bisa manghambat industri sawit Indonesia. Kami akan terus meyakinkan publik dunia bahwa Indonesia sudah berkomitmen menjalankan praktek pengelolaan hutan berkelanjutan seperti yang ditetapkan dalam MDG's dan SDG's, seharusnya tidak ada isu lagi bagi industri sawit Indonesia di pasar Uni Eropa," pungkas Rosan.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif