Indonesia Dibidik jadi Barometer Perkembangan e-Commerce pada 2025

Suci Sedya Utami 17 April 2018 15:12 WIB
e-commerce
Indonesia Dibidik jadi Barometer Perkembangan e-Commerce pada 2025
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro. ANT/Sigid Kurniawan.
Jakarta: Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara tolak ukur perkembangan ekonomi digital e-pada 2025. Sayangnya, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan terbesar dalam sektor information, communication, and technology (lCT).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan peringkat lCT lndonesia dapat dikatakan cukup baik, tetapi pertumbuhannya belum dapat memenuhi kebutuhan akses infrastruktur ICT nasional dan penggunaan ICT perorangan. 

Oleh karena itu pemerintah pun terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut, termasuk juga untuk memastika pengembangan industri nasional harus sejalan dengan perkembangan teknologi, baik yang digunakan produsen maupun konsumen.

Menurut mantan Menteri Keuangan ini, perkembangan ICT dan inovasi digital dapat dijadikan peluang bagi indonesia untuk meningkatkan produktivitas ekonomi nasional secara signifikan.

"Dengan respons kebijakan yang tepat dapat meningkatkan nilai perekonomian secara keseluruhan. Pada tahun 2025, lndonesia diproyeksi akan menjadi barometer perkembangan industrid digital dengan memiliki pangsa 52 persen pasar e-commerce di regional Asia Tenggara yang didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan perbaikan akses infrastruktur digital,” kata Bambang di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

Guna menangkap momentum sebagai barometer ekonomi digital, Bambang mengatakan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019, pemerintah juga menargetkan sektor industri nasional tumbuh dalam rentang 5,1-5,6 persen. 

Untuk mencapai target tersebut dan mendorong industri nasionai ke arah yang lebih maju, pemerintah akan fokus pada beberapa isu strategis, seperti nilai tambah manufaktur, iklim usaha, produktivitas, kandungan teknologi, dan ekspor produk manufaktur. 

Rencana kerja yang mendukung pengembangan industri nasional di dalam Prioritas Nasional 3: "Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja melalui Pertanian, Industri, Pariwisata dan Jasa Produktif Lainnya” tersebut, antara lain pengembangan industri berbasis UMKM pertanian, pengembangan industri hulu, industri pendukung, dan perwilayahan industri, peningkatan ekspor manufaktur, pengembangan kompetensi SDM industri melalui pendidikan vokasi, serta peningkatan penelitian dan pengembangan industri.

Khusus kegiatan penelitan dan pengembangan industri, lanjut dia,  pemerintah saat ini sedang menyiapkan skema insentif investasi industri, salah satunya adalah insentif pengurangan pajak melalui fasilitas tax holiday, tax allowance, dan import duty. 

"Strategi pengembangan industri nasional tersebut menjadi modal dasar dalam mencapai target visi pembangunan Indonesia di 2045 sebagai negara dengan tingkat pendapatan tinggi. Sektor industri diharapkan menjadi penggerak utama perekonomian nasional dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 7,8 persen per tahun dan kontribusi terhadap perekonomian sebesar 32 persen," pungkas dia.






(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id