Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami.

Dorong Ekspor, Pengusaha RI Bakal Jualan di Ritel Raksasa AS

Ekonomi ekspor ritel indonesia-as
Suci Sedya Utami • 13 September 2019 18:30
Jakarta: Pengusaha Indonesia akan didorong untuk memasarkan produk dalam negeri di Amerika Serikat (AS). Hal ini ditujukan untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke negara tersebut.
 
Nantinya pengusaha Indonesia akan dibantu oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Amerika Serikat (AS) atau US Chamber untuk mempromosikan produk-produknya ke toko-toko ritel raksasa di Negeri Paman Sam tersebut seperti Walmart.
 
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan kerja sama ini diinisiasi oleh Apindo dan AS. Dalam waktu dekat pengusaha Indonesia akan diajak untuk road show mengenalkan produk-produknya di AS.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi konsentrasinya untuk menjual ekspor untuk barang ritel di AS," kata Hariyadi ditemui usai rapat koordinasi mengenai peningkatan ekspor di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta Pusat, Jumat, 13 September 2019.
 
Adapun barang-barang yang dipasarkan yakni barang jadi yang berhubungan dengan ritel seperti tekstil, sepatu, furnitur, makanan, dan minuman. Sebab kalau dalam bentuk spare part otomotif tidak masuk ke dalam ritel namun masuk ke industri.
 
Hariyadi mengatakan dorongan ini ditempuh untuk mengambil peluang dari perang dagang antara AS dan Tiongkok. Ia bilang pihak AS merasa prihatin dengan Indonesia yang terkena dampak dari sisi arus modal masuk.
 
"Mereka prihatin Indonesia enggak kebagian FDI (aliran modal asing). Nah mereka memandang perlu mem-backup Indonesia," tutur Hariyadi.
 
Dalam kesempatan yang sama Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang perang dagang. Sebab, 30 persen perusahaan Tiongkok yang mengisi pasar di AS merelokasi tujuan ekspor mereka karena menganggap tarifnya bea masuknya tidak kompetitif. Kendati dirinya pun belum tahu pasti berapa besar porsi Indonesia untuk mengisi kekosongan suplier tersebut.
 
"Enggak tahu dapat lima persen, 10 persen tergantung. Tapi mereka bilang peraturan Indonesia masih belum friendly, tapi saya bilang sehat sedang jalan," ujar Luhut.
 
Luhut inisiasi untuk mendorong ekspor ini telah dibahas sejak dua bulan lalu. Pada kesempatan ini disepakati bahwa enam bulan ke depan Indonesia harus sudah siap untuk menambah ekspornya ke AS.
 
"Sepakat 15 Oktober ini eksekusi harus mulai," jelas Luhut.
 
Dalam kesempatan ini, pihak perbankan juga diminta untuk berpartisipasi untuk mendorong ekspor dengan memberikan dukungan berupa pendanaan. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menambahkan saat ini yang terpenting yakni bagaimana mendorong promosi-promosi produk Indonesia.
 
"Saya setuju dengan langkah pemerintah bagaimana getting to know bahwa pengusaha-pengusaha AS mengenal Indonesia lebih banyak lagi," jelas Andry.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif