Investasi Turun, Kebijakan Harus Lebih 'Nendang'
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong kritik Kebijakan investasi. Medcom/Desi.
Jakarta: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyebut kebijakan investasi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla belum membuahkan hasil alias kurang 'nendang'. Hal ini tercermin dari tren penurunan investasi dalam satu tahun terakhir.

"Saya sampaikan apa adanya, dan menurut saya ini harus jadi bahan instrospeksi supaya kebijakan dan terobosan kita kedepannya lebih nendang," kata Lembong dalam sebuah jumpa pers di Kantor BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa, 30 Oktober 2018.

Menurutnya, upaya pemerintah memberikan tax holiday dalam jangka waktu 20 tahun belum menggiurkan investor. Sebab skema insentif fiskal ini baru diminati oleh sepuluh investor atau tiga persen dari seluruh subsektor dalam ekonomi.

Lembong bilang kriteria pemberian tax holiday dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 159/2015 tentang Pemberian Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan itu terlalu ketat. Karenanya, investor menjadi kurang berminat.

"Jadi kriterianya terlalu ketat, terlalu sempit dan nggak nendang. Jadi kita sekarang sedang mendorong tax holiday yang lebih nendang. Bukan hanya dari sisi jumlah tahun yang diberikan tapi mencakup berbagai sektor dalam ekonomi," imbuh dia.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kebijakan amnesti pajak dan deregulasi investasi pada 2015 telah menciptakan momentum investasi yang kuat pada 2016 dan 2017. Sayangnya, pada 2017 pemerintah tidak meluncurkan terobosan maupun reformasi ekonomi yang berarti sehingga menghasilkan capaian investasi yang kurang menggembirakan di 2018.

"Jadi kalau lihat sejarah atau tren dua tiga tahun ini, yang namanya investasi menyelamatkan PE di 2016 terutama 2017. Dan mulai di triwulan II tahun ini investasi mulai berkurang," pungkas dia.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) Triwulan III 2018 tumbuh melemah sebesar Rp173,8 triliun. Angka itu turun 1,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp176,6 triliun.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id