Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: medcom.id/Desi Angriani)
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: medcom.id/Desi Angriani)

Tanpa CEPA Ekspor Indonesia Loyo

Ekonomi kementerian perdagangan
Ilham wibowo • 12 Juni 2019 17:27
Jakarta: Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) Indonesia dengan negara potensial dinilai menjadi sebuah keharusan. Langkah ini diyakini memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk ekspor di tengah pelambatan ekonomi global.
 
Menteri Perdagangan Eanggartiasto Lukita mengatakan niatan membentuk CEPA sedianya telah dicanangkan sejak lama. Namun, komitmen serius baru dilakukan baru-baru ini terutama dalam Pemerintahan Presiden Joko Widodo.
 
"Delapan tahun kita belum ada CEPA, baru sekarang dan itu belum entry into force. Kalau ini tidak ada kita pasti rugi, kita tidak bisa jualan," kata Enggar ditemui usai menghadiri acara halalbihalal di kantor Kemendag Jakarta Pusat, Selasa, 12 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Implementasi CEPA juga menjadi penting dalam menghadapai dampak buruk perang dagang terhadap Indonesia. Salah satu visi yang diharapkan muncul dari CEPA yakni economic powerhouse, yaitu sebuah konsep kerja sama dua negara dengan saling memanfaatkan keunggulan dan produktivitas masing-masing untuk menyasar akses pasar ke negara ketiga.
 
Selain meningkatkan nilai ekspor produk manufaktur, perdagangan jasa dan investasi juga difokuskan bisa bertambah banyak dan saling menguntungkan. Perjanjian dalam CEPA memungkinkan dihapuskannya bea masuk impor seluruh pos tarif menjadi nol persen.
 
"Sekarang kita sama Turki (ekspor) untuk CPO nol semua lari ke Malaysia, kita dengan India turun 72 persen downstream CPO karena Malaysia ada perbedaan tarif lima persen, kalau tidak ada perjanjian kita tidak bisa ekspor," ungkapnya.
 
Saat ini percepatan implemetasi CEPA telah dilakukan di beberapa negara potensial seperti Uni Eropa, Mozambik, Turki, Tunisia, Iran, Bangladesh, dan Korea Selatan. Diharapkan target pertumbuhan ekspor tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun lalu yang hanya 6,4 persen.
 
"Memangkas pertumbuhan ekonomi bukan berarti memangkas ekspor, sekarang itu bagaimana di saat situasi yang tidak menentu ini kita terus berbuat," ujarnya.
 
Pemerintah telah mematok target pertumbuhan ekspor nonmigas pada 2019 sebesar 7,5 persen atau setara USD175 miliar. Adapun lima sektor industri prioritas yang tengah didorong meningkatkan ekspornya yakni makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik dan kimia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif