Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Jalan Terjal bagi Bank Kecil

Ekonomi ojk perbankan
Media Indonesia • 04 November 2019 07:25
Semarang: Kehadiran perusahaan keuangan berbasis teknologi digital (financial technology/fintech) telah memengaruhi kinerja perbankan konvensional.
 
Pengaruh tersebut, terutama dirasakan pada bank umum kelompok usaha (BUKU) 1 dengan modal tidak sampai Rp1 triliun, dan BUKU 2 dengan modal Rp1 triliun hingga kurang dari Rp5 triliun.
 
Kondisi ini tercermin dari rendahnya pertumbuhan penyaluran kredit maupun simpanan dana pihak ketiga (DPK) di bank-bank kecil di Tanah Air. Hingga Juni 2019, DPK terhimpun di bank BUKU 1 hanya satu persen dan bank BUKU 2 sebesar 13 persen. Total DPK di perbankan nasional mencapai Rp5.799,8 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di periode yang sama, penyaluran kredit bank BUKU 1 sebesar satu persen dan bank BUKU 2 sebesar 12 persen. Adapun total kredit yang disalurkan perbankan nasional mencapai Rp5.495,9 triliun.
 
"Bersaing dengan fintech enggak mudah. Mereka bisa melakukan apa saja. Saat ini ada 80 bank BUKU 1 dan 2. Lalu, ada tantangan dari sisi makroekonomi global dan domestik yang penuh ketidakpastian," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana, dalam diskusi kelompok terfokus dengan topik Konsolidasi Bank Umum dan BPR di Semarang, Jawa Tengah, akhir pekan ini.
 
"Kini, aset industri perbankan mencapai Rp9.000 triliun. Sudah sedemikian besar dengan tuntutan yang kian ketat. Bank bermodal kecil tidak mampu menyiapkan teknologi untuk bersaing dengan perusahaan fintech. Lama-lama bank kecil akan tergerus juga," lanjut anggota Dewan Komisioner OJK tersebut.
 
Karena itu, pihaknya berharap perbankan dengan kategori BUKU 1 maupun 2 menempuh langkah konsolidasi dengan berbagai cara.
 
"Bank yang bermodal kuat membantu bank kecil atau bank besar, membina bank kecil ketika mengalami gangguan keuangan dengan bantuan manajemen. Ini bentuk konsolidasi yang bisa menghindari gangguan terhadap sistem keuangan. Yang kecil diambil dibuat bank khusus, misalnya jadi bank digital," ungkap Heru.
 
Dalam penilaian pengamat perbankan dari Core Piter Abdulah, konsolidasi seperti penggabungan usaha atau merger merupakan salah satu langkah ideal untuk menyehatkan perbankan nasional di era digital.
 
"Bank kecil kalah dalam segala hal. Mereka pun sulit menyaingi fintech yang didukung teknologi," kata Piter.
 
Sementara itu, pengamat perbankan digital Paul Sutaryono menaruh harapan agar bank kecil berdamai dengan keberadaan perusahaan fintech dalam menghadapi disrupsi teknologi. Positifnya, perusahaan fintech dapat mendorong bank kecil untuk menggali berbagai produk berbasis teknologi.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif