BPJS Ketenagakerjaan. Foto : Medcom/Gervin.
BPJS Ketenagakerjaan. Foto : Medcom/Gervin.

BP Jamsostek Incar 23,5 Juta Peserta Baru di 2020

Ekonomi bpjs ketenagakerjaan
Husen Miftahudin • 14 Januari 2020 19:11
Jakarta: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek mengincar 23,5 juta tambahan peserta baru pada tahun ini. BP Jamsostek optimistis target tersebut tercapai mengingat perekonomian domestik bakal mengalami pertumbuhan positif di 2020.
 
"Jadi ini semua kita ikut optimisme pemerintah dengan tingkat investasi yang masuk begitu banyak. Sehingga semua diarahkan ke sana, dan itu akan membuka lapangan kerja," kata Direktur Kepesertaan BP Jamsostek Ilyas Lubis usai sosialisasi SIAPP82 di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Januari 2020.
 
Namun optimisme itu bukan tanpa rintangan. Sebab pola hubungan kerja pada banyak perusahaan kerap menerapkan sistem kontrak. Alhasil banyak peserta ketika kontrak kerjanya habis, mereka memilih untuk tidak melanjutkan kepesertaan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masalahnya masuk 23 juta, keluar lagi keluar lagi. Karena pola hubungan kerja kita ada yang kontrak, habis, keluar dulu, ambil jaminan hari tuanya, keluar dulu, masuk lagi. Jadi turn over gitu," ungkapnya.
 
Ilyas menyebutkan, dari target 23,5 juta peserta baru, hanya sekitar 25-30 persen yang bisa menjadi peserta aktif. "Biasanya dari 23 juta itu sekitar seperempatnya atau 25-30 persennya tetap stay, yang lainnya kelua masuk," ucap dia.
 
Hingga akhir 2019 lalu, ada sebanyak 54,5 juta pekerja yang terdaftar sebagai peserta BP Jamsostek. Puluhan juta pekerja peserta itu berasal dari 650 ribu pemberi kerja yang terdaftar di BP Jamsostek.
 
"Untuk 2019 kita berhasil menambah tenaga kerja itu banyak juga. Ada 23 juta lebih (tambahan peserta baru) dari target kita 20,8 juta," ungkap Ilyas.
 
Dari 650 ribu pemberi kerja yang terdaftar, sekitar 80 persennya berasal dari pelaku usaha kecil dan mikro. Sementara sisanya sekitar 20 persen merupakan perusahaan menengah - besar.
 
"Jadi sekitar 120 ribu yang menengah besar. Kalau yang besar-besar mayoritas sudah ikut (BP Jamsostek), BUMN sudah semua. Tapi ada yang tersendat," pungkas Ilyas.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif