Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Dok: Medcom.
Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Dok: Medcom.

Cegah PHK Besar-besaran, Ini Strategi Kemenaker

Ekonomi phk kemenaker
Nia Deviyana • 27 Desember 2018 20:04
Jakarta: Revolusi industri 4.0 yang marak dengan otomatisasi memberikan tantangan terhadap pekerja di Indonesia. Dengan bertambahnya bidang pekerjaan yang bisa digarap dengan kecerdasan buatan, angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) diperkirakan akan semakin tinggi. Dalam hal ini, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengaku sudah membuat peta jalan untuk mengantisipasi hal tersebut.

"Jadi perlindungan terbaik itu namanya perlindungan skill. Kalau hari ini dan di belakang orang kebanyakan orientasinya adalah cari pekerjaan tetap. Kalau masih begitu di masa depan akan sulit. Kita mungkin enggak happy dengan kondisi ke depan," ujar Hanif di Gedung Kemenaker, Jakarta, Kamis, 27 Desember 2018.

Hanif memaparkan pihaknya memiliki kebijakan yang disebut dengan triple skilling. Kebijakan ini diharapkan bisa menyasar seluruh lapisan tenaga kerja agar bisa terserap di era industri 4.0.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Jadi yang belum punya skill ini kita kasih pelatihan, sementara yang sudah punya skill, agar kariernya bisa berkembang maka kita kasih kesempatan upskilling. Lalu untuk yang punya skill tapi sudah tidak relevan karena sektornya sudah tertkan dengan perubahan, kita juga kasih kesempatan untuk re-skilling sehingga mereka bisa punya skill baru yang dibutuhkan industri," papar Hanif. Era industri 4.0 memang memberi tantangan sekaligus ancaman. Senada dengan Hanif, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga telah menyiapkan langkah strategis. Salah satunya dengan menyelenggarakan  program pendidikan dan pelatihan vokasi, mengusung konsep link and match antara industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 

"Tujuannya adalah menciptakan satu juta tenaga kerja kompeten yang tersertifikasi sesuai kebutuhan dunia industri pada 2019," kata Airlangga, belum lama ini.

Airlangga menilai masyarakat tidak perlu khawatir dengan revolusi industri 4.0 karena justru memberi kesempatan Indonesia berinovasi. Selain itu, kata dia, revolusi industri 4.0 yang fokus pada pengembangan ekonomi digital dinilai menguntungkan bagi Indonesia karena kunci utama pengembangan ekonomi digital adalah pasar dan bakat.

"Dua-duanya Indonesia punya. Kita punya universitas di ASEAN terbanyak. Kebetulan sumber daya manusia kita juga masuk era emas karena banyak generasi muda. Peluang ini yang harus kita dorong," kata dia.

Airlangga menambahkan revolusi industri 4.0 seharusnya lebih mudah dihadapi Indonesia yang telah menghadapi revolusi industri 3.0 di mana otomatisasi dan robotik telah banyak dilakukan.
Ketua Umum Partai Golkar itu menuturkan revolusi industri 4.0 yang berbasis data dan kecerdasan artifisial tidak akan mengurangi lapangan kerja bagi masyarakat.

Menurut dia, otomatisasi yang telah terjadi di sejumlah industri seperti tekstil, otomotif, hingga petrokimia justru akan bersinergi dengan tenaga kerja mendorong efisiensi pekerjaan.
"Jadi pelaksanaan industri 4.0 di tekstil itu tidak mengurangi tenaga kerja, hanya meningkatkan efisiensi. Jadi tenaga kerja tidak akan berkurang," pungkas dia.



(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi