Illustrasi. MI/Iskandar.
Illustrasi. MI/Iskandar.

Suku Bunga Masih 6%, BI Janji Longgarkan Likuiditas

Ekonomi bank indonesia suku bunga
Husen Miftahudin • 21 Februari 2019 20:03
Jakarta: Bank Indonesia (BI) berjanji akan melonggarkan kondisi likuiditas perbankan. Jaminan likuiditas yang longgar diberikan bank sentral sebagai kompensasi dari kebijakan suku bunga acuan yang masih berada di posisi enam persen.
 
Suku bunga acuan sebesar enam persen sudah bertahan selama empat bulan (November 2018-Februari 2019). Padahal, situasi pasar keuangan menunjukkan sikap melunak (dovish) dari bank sentral AS, The Federal Reserve.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan suku bunga acuan diarahkan untuk menopang stabilitas ekonomi dari tekanan eksternal di 2019. Upaya itu dimaksudkan otoritas agar mampu mengendalikan defisit transaksi berjalan dan menarik aliran modal asing ke Tanah Air.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk suku bunga yang tetap (mempertahankan di posisi enam persen), itu kita fokuskan untuk stabilitas eksternal. Sementara untuk likuiditas kita kendurkan, kita tingkatkan ketersediaan likuiditas (bagi perbankan)," ujar Perry dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019.
 
Perry juga berjanji kontribusi bank sentral terhadap perekonomian domestik tak akan berkurang. Momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung akan dijaga dengan memadai sumber-sumber pembiayaan ekonomi.
 
Di samping itu, BI juga menjamin untuk memberikan stimulus makroprudensial. Namun Perry enggan membeberkan lebih detail soal kebijakan pelonggaran makroprudensial.
 
Perry hanya bilang pelonggaran makroprudensial akan menyasar sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), pariwisata, serta sektor-sektor yang berorientasi ekspor.
 
"Kebijakan makroprudensial yang akomodatif bentuknya kami sedang kaji lebih lanjut, bisa juga instrumen-instrumen yang ada sekarang itu seperti intermediasi perbankan, itu bisa. Tapi kita tingkatkan akomodasinya, artinya, agar bisa mendorong pembiayaan ke ekonomi, ke sektor riil," papar Perry.
 
Ekonom Destri Damayanti sebelumnya menyebutkan, suku bunga acuan di level enam persen merupakan posisi yang ideal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, era suku bunga yang tinggi menyiratkan bahwa Indonesia tengah menuju kondisi normal yang baru atau new normal era.
 
Di sisi lain, lanjut Destri, perkiraan penaikan suku bunga acuan the Fed sebanyak dua kali pada 2019 menjadi angin segar bagi Indonesia. Sebab, kondisi tersebut secara tidak langsung membawa dampak positif bagi pasar keuangan lantaran imbal hasil AS tak jauh berbeda dengan Indonesia.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif