Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Kontribusi BUMN Meningkat 9,8% Per Tahun

Ekonomi bumn
16 April 2019 23:11
Jakarta: Performa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara keseluruhan dinilai bagus. Indikatornya ditunjukkan melalui kontribusi BUMN terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 
"Dalam empat tahun terakhir, sumbangan BUMN terhadap pendapatan negara meningkat dari Rp303 triliun menjadi Rp422 triliun. Meningkat rata-rata 9,8 persen per tahun," kata Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir, Selasa, 16 April 2019.
 
Capaian itu dinilai menggembirakan karena berlangsung di tengah gejolak moneter dan harga komoditas yang stagnan dalam tiga tahun terakhir. "Kinerja keuangan ini jelas memperlihatkan bahwa BUMN tidak hanya sehat secara keuangan, tetapi juga tangguh dalam menghadapi gejolak perekonomian yang menerpa Indonesia,” jelas Revrisond.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejumlah BUMN memang masih mengalami kerugian, namun nilai kerugiannya terus tergerus dalam empat tahun terakhir. Pada akhir 2014, BUMN yang merugi berjumlah 24 perusahaan. Nilai kerugiannya mencapai Rp10,2 triliun. Namun, pada akhir 2017, jumlah BUMN merugi berkurang menjadi 12 perusahaan, sedangkan nilai kerugiannya ditekan menjadi Rp5,2 triliun.
 
Revrisond mencontohkan permasalahan yang dihadapi Pertamina, Garuda, dan PLN yang sama sekali bukan masalah baru. Menurutnya, itu merupakan warisan masa lalu. Menurutnya, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan berbagai upaya untuk mencoba menanggulangi permasalahan yang dihadapi ketiga BUMN itu.
 
“Untuk Pertamina, upaya serius yang dilakukan pemerintah tampak pada dipercayakannya pengelolaan Blok Mahakam dan Blok Rokan kepada Pertamina," katanya.
 
Demikian halnya dengan PLN. Rumor mengenai kesulitan likuiditas yang tengah dialamai PLN ternyata tidak terbukti. "Bahkan, dalam empat tahun terakhir, PLN berhasil meningkatkan rasio elektrifikasi nasional dari 86,2 persen menjadi 97,2 persen,” ujarnya.
 
Baca: Kinerja BUMN Indonesia Salip Malaysia
 
Ekonom Senior Core Indonesia Hendri Saparini menekankan perbedaan persepsi dalam menilai performa BUMN dengan performa perusahaan swasta. Menurutnya, tugas BUMN jauh lebih berat.
 
“BUMN sebagai entitas bisnis harus menjaga performanya, baik dari sisi keuangan, pengelolaan, transformasi dengan lingkungan yang baru, dan lainnya. Semua itu harus dilakukan untuk menjaga performa secara finansial maupun secara bisnis,” kata Hendri.
 
Menurutnya, BUMN juga punya beban atau tugas sebagai agen pengembangan, juga harus dilihat sebagai bagian dari performa. Misalnya, meningkatkan efisiensi ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperbaiki public services. "Keduanya harus dilakukan dan terkadang menjadi pilihan yang sulit," katanya.
 
Dia mencontohkan kebijakan BBM satu harga. Menurutnya, kebijakan itu pilihan politik untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat lewat daya beli yang lebih baik. "Memang merugikan BUMN, tapi sebagai sebuah bangsa, kita tidak hanya melihat satu sisi,” ujar Hendri.
 
Dilihat secara makro, kebijakan itu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Ia yakin akan ada kekuatan ekonomi di kelompok bawah yang akan membesar dan mampu membesarkan ekonomi Indonesia, baik dalam pajak maupun pertumbuhan ekonomi.
 

(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif